Meta Bangun Pusat Data Raksasa di Alberta, Investasi Rp 147 Triliun untuk AI
Baca dalam 60 detik
- Meta mengumumkan investasi C$13 miliar untuk pusat data pertama di Kanada, berlokasi di Alberta, guna mendukung pengembangan kecerdasan buatan.
- Pusat data 1 gigawatt ini akan memanfaatkan gas alam Alberta yang murah dan iklim dingin untuk efisiensi pendinginan, namun menimbulkan kekhawatiran emisi karbon.
- Langkah ini memperkuat posisi Alberta sebagai hub data center di Kanada, meskipun jejak karbonnya jauh di atas rata-rata nasional.

Raksasa teknologi Meta resmi mengumumkan pembangunan pusat data senilai C$13 miliar (sekitar Rp 147 triliun) di Alberta, Kanada, menandai investasi infrastruktur digital terbesar perusahaan di luar Amerika Serikat. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan global dalam kecerdasan buatan (AI) kian memanas, dengan kebutuhan komputasi yang melonjak drastis.
Pusat data berkapasitas 1 gigawatt ini akan berlokasi di Sturgeon County, Alberta, dan menjadi fasilitas ke-33 Meta di seluruh dunia. Perusahaan yang menaungi Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini telah berkomitmen menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk memperluas infrastruktur AI, terutama di AS. Namun, ekspansi ke Kanada menunjukkan bahwa Meta mulai mencari lokasi alternatif di luar negeri untuk mengakomodasi pertumbuhan eksponensial komputasi AI.
Alberta dipilih bukan tanpa alasan. Provinsi penghasil minyak dan gas ini memiliki cadangan gas alam melimpah yang dijual dengan harga diskon signifikan dibandingkan patokan AS. Selain itu, iklim dingin Alberta memungkinkan pendinginan server raksasa secara lebih efisien, mengurangi biaya operasional. Pemerintah provinsi di bawah Premier Danielle Smith telah lama membujuk raksasa Silicon Valley untuk berinvestasi, dan kini menuai hasilnya.
Meta akan membiayai sendiri pembangunan infrastruktur kelistrikan baru untuk pusat data ini, termasuk kerja sama dengan Pembina Pipeline melalui fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam Greenlight Electricity Centre. Proyek ini diperkirakan membutuhkan 150 juta kaki kubik gas alam per hari, menciptakan permintaan baru bagi produsen gas Kanada Barat. Namun, langkah ini menuai sorotan karena Alberta mengandalkan gas alam untuk 60 persen kebutuhan listriknya, menjadikan intensitas emisi provinsi itu hampir lima kali lipat rata-rata nasional Kanada.
Pemerintah federal Kanada baru saja meluncurkan strategi AI yang menekankan pemanfaatan jaringan listrik bersih dari energi terbarukan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pusat data yang direncanakan di Kanada justru berlokasi di Alberta, yang bergantung pada bahan bakar fosil. Kontradiksi ini memicu perdebatan mengenai dampak lingkungan dari percepatan adopsi AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Di tengah gencarnya promosi pusat data dan AI di Tanah Air, pemerintah perlu memastikan ketersediaan energi yang cukup dan ramah lingkungan. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, termasuk gas bumi, memiliki potensi serupa untuk menarik investasi teknologi, namun harus diimbangi dengan komitmen transisi energi. Langkah Meta di Alberta menunjukkan bahwa kecepatan dan biaya energi menjadi faktor kunci dalam persaingan global AI.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah model investasi berbasis gas alam seperti ini akan menjadi tren atau justru mendapat tekanan dari regulator lingkungan. Dengan target netralitas karbon yang semakin ketat, Meta dan perusahaan teknologi lain mungkin harus mencari keseimbangan antara kebutuhan komputasi masif dan tanggung jawab iklim.



