Bencana China: Longsor Gansu Tewaskan 21 Orang, Ribuan Terdampak Banjir dan Tornado
Baca dalam 60 detik
- Longsor di Desa Rencang, Gansu, menewaskan 21 orang setelah menimbun 33 warga, dengan dana rekonstruksi Rp64 miliar disiapkan pemerintah.
- Bersamaan dengan longsor, badai dan tornado di China selatan dan tengah menewaskan 17 orang, melukai lebih dari 330, serta merusak ribuan rumah.
- Presiden Xi Jinping memerintahkan evakuasi massal dan perbaikan infrastruktur, sementara 341 bendungan di Guangxi berada di atas ambang batas aman.

Bencana alam kembali melanda China saat musim panas mencapai puncaknya. Longsor di Provinsi Gansu, China barat laut, menewaskan 21 orang setelah menimbun 33 warga di Desa Rencang, Kabupaten Dangchang, Selasa pagi (7/7). Peristiwa ini terjadi di tengah gelombang badai dan hujan ekstrem yang melanda wilayah selatan dan tengah China, menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai ratusan lainnya.
Tim penyelamat yang dikerahkan ke lokasi longsor menyelesaikan operasi pencarian pada Rabu (8/7). Menurut kantor berita Xinhua, seluruh korban telah ditemukan dan tidak ada lagi yang tertimbun. Pemerintah setempat telah mengalokasikan dana rekonstruksi sebesar 30 juta yuan (sekitar Rp64 miliar) untuk memulihkan daerah terdampak. Longsor terjadi pada pukul 06.56 waktu setempat, saat hujan deras mengguyur kawasan perbukitan yang rawan bencana.
Bencana ini bukan insiden terisolasi. Di Provinsi Hubei, China tengah, badai petir pada Senin malam (6/7) melumpuhkan 14.600 penduduk. Lebih dari 330 orang terluka, satu orang hilang, 20 rumah runtuh, dan 4.800 unit rumah lainnya rusak. Xinhua melaporkan bahwa angin puting beliung langka berkategori EF2 melanda Kota Huanggang, menerbangkan truk sejauh 30 meter dan menghancurkan gudang serta perusahaan logistik. Sebuah video yang diunggah Shanghai Daily memperlihatkan warga di lantai dasar gedung berteriak saat pintu kaca pecah diterpa angin kencang.
Di Guangxi, China selatan, puluhan ribu warga dievakuasi setelah sekitar 40 sungai dan saluran air meluap. Stasiun penyiaran CCTV melaporkan bahwa air bah menerobos bendungan waduk, menyebabkan 341 waduk berada di atas batas aman dan 56 stasiun pemantau mencatat level air melampaui tanda bahaya. Pejabat regional Cai Yunge memperingatkan risiko tinggi kebocoran pipa, longsor susulan, dan keruntuhan struktur akibat jenuhnya air di tanggul sungai dan waduk. Infrastruktur seperti pasokan air minum, jalan, jaringan listrik, dan telekomunikasi di sejumlah kota mengalami kerusakan parah.
Presiden Xi Jinping menyerukan upaya penyelamatan maksimal, sementara Menteri Sumber Daya Air Li Guoying memperingatkan bahwa Guangxi dan sebagian Guangdong barat daya masih akan diguyur hujan pada Rabu. Bencana musim panas seperti ini lazim terjadi di China, tetapi intensitas tahun ini dinilai luar biasa. Kombinasi longsor, banjir, dan tornado dalam waktu bersamaan menunjukkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Bagi Indonesia, rangkaian bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Dengan topografi serupa dan musim hujan yang kerap memicu longsor serta banjir, pemerintah daerah di Tanah Air perlu mengevaluasi sistem peringatan dini dan infrastruktur penahan air. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah mitigasi yang ada saat ini cukup untuk menghadapi skenario bencana beruntun seperti yang dialami China?



