Wanita di Jepang Jahit Bibir Teman Sekamar: Kisah Kekerasan yang Mengguncang
Baca dalam 60 detik
- Seorang wanita paruh waktu di Ibaraki, Jepang, ditangkap karena menjahit bibir teman sekamarnya dengan jarum dan benang pada 29 Juni lalu.
- Korban yang tinggal bersama tersangka sejak April 2025 mengaku takut melarikan diri sebelum kejadian, dan akhirnya melarikan diri ke toko terdekat.
- Polisi masih menyelidiki motif dan kemungkinan keterlibatan penghuni lain di rumah tersebut.

Seorang wanita berusia 49 tahun di Prefektur Ibaraki, Jepang, ditangkap polisi pada Senin (8/7) setelah diduga menjahit bibir teman sekamarnya yang berusia 42 tahun dengan jarum dan benang. Insiden yang terjadi pada 29 Juni ini mengguncang publik karena kekejamannya yang tak lazim, memicu pertanyaan tentang dinamika kekuasaan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Masae Sakurai, pekerja paruh waktu yang tinggal di kota Mito, didakwa melukai korban dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Menurut laporan polisi, korban yang tinggal bersama Sakurai sejak April 2025 mengaku bahwa ia “terlalu takut untuk melarikan diri” sebelum serangan terjadi. Fakta ini mengindikasikan adanya pola kekerasan psikologis yang berkepanjangan, di mana korban merasa terperangkap dalam situasi yang mengancam.
Korban akhirnya berhasil melarikan diri ke sebuah toko terdekat setelah kejadian, dan seorang karyawan toko segera menghubungi polisi. Polisi belum mengonfirmasi apakah Sakurai mengakui tuduhan tersebut. Selain itu, polisi menduga ada penghuni lain di rumah itu yang mungkin menyaksikan atau bahkan terlibat dalam insiden tersebut.
Kasus ini menyoroti sisi gelap hubungan antarpenghuni rumah yang seringkali tidak terlihat. Di Indonesia, meskipun kasus serupa jarang terjadi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan antarpenghuni kos atau kontrakan masih menjadi masalah serius. Data Komnas Perempuan mencatat ribuan kasus KDRT setiap tahun, dengan banyak korban merasa takut untuk melapor karena ancaman atau ketergantungan ekonomi.
Menurut psikolog forensik, tindakan seperti menjahit bibir korban tidak hanya melukai fisik tetapi juga merupakan bentuk penghinaan ekstrem yang bertujuan untuk membungkam korban. “Ini adalah simbol kekuasaan yang sangat primitif, di mana pelaku ingin mengontrol apa yang keluar dari mulut korban—baik suara maupun makanan,” ujar seorang analis kriminal yang tidak disebutkan namanya.
Polisi Jepang kini tengah mendalami motif Sakurai, termasuk kemungkinan adanya gangguan mental atau dendam pribadi. Keberadaan penghuni lain di rumah tersebut juga menjadi fokus penyelidikan, karena bisa jadi mereka adalah saksi kunci atau bahkan korban lain.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang seharusnya aman seperti rumah. Pertanyaan yang tersisa: apakah sistem hukum dan dukungan sosial sudah cukup untuk melindungi mereka yang terjebak dalam situasi serupa?



