Helen Baxendale: Popularitas Cold Feet dan Friends Terasa Berat untuk Dijalani
Baca dalam 60 detik
- Aktris Helen Baxendale mengaku kewalahan menghadapi popularitas setelah membintangi Cold Feet dan Friends.
- Kematian karakternya di Cold Feet disebut sebagai salah satu momen drama nasional terakhir di Inggris.
- Baxendale memilih menjauh dari gemerlap Hollywood karena tidak cocok dengan tekanan hidup selebritas.

Helen Baxendale, aktris yang namanya melambung berkat peran di serial Cold Feet dan Friends, mengakui bahwa popularitas yang ia raih justru menjadi beban psikologis yang tidak ringan. Dalam wawancara terbaru, perempuan 56 tahun itu menyebut masa-masa puncak kariernya sebagai periode yang "sungguh luar biasa namun aneh", tetapi di sisi lain ia merasa kewalahan.
Baxendale pertama kali mencuri perhatian publik sebagai Rachel Bradley dalam drama komedi ITV Cold Feet. Kesuksesan itu kemudian membawanya ke panggung internasional lewat peran berulang sebagai Emily Waltham, istri kedua Ross Geller di Friends. Namun, perhatian yang ia terima—terutama setelah karakter Rachel meninggal secara tragis—membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ketika karakter saya meninggal, reaksi publik sungguh gila," ujar Baxendale kepada Radio Times. Ia menambahkan bahwa momen tersebut merupakan "salah satu momen drama nasional terakhir" di televisi Inggris, karena kini tak ada lagi program yang mampu menyedot perhatian sebanyak itu. Namun, di balik pujian, ada sisi fame yang tidak ia nikmati. "Ada aspek ketenaran yang tidak saya sukai, ditambah semua yang terjadi dengan Friends, itu cukup berat untuk dihadapi," katanya.
Menariknya, Baxendale mengaku belum pernah menonton Friends sebelum mengikuti audisi. Ketidaktahuan itu justru menjadi berkah karena jika ia sadar akan besarnya serial tersebut, ia mungkin akan "sangat ketakutan" saat mencoba peran. "Saya belum pernah tampil di panggung langsung sebelumnya, jadi kenyataan bahwa saya datang ke lokasi syuting Hollywood, mereka syuting di depan penonton langsung hingga pukul 2 pagi sambil memberi pizza, itu pengalaman yang luar biasa," kenangnya.
Baxendale juga secara terbuka mengakui bahwa ia tidak menginginkan gaya hidup Hollywood seperti yang dijalani para bintang Friends lainnya—David Schwimmer, Jennifer Aniston, Courteney Cox, Matthew Perry, Matt LeBlanc, dan Lisa Kudrow. Dalam wawancara tahun 2022 dengan The Independent, ia mengatakan, "Saya pikir saya melihat ke mana semua itu akhirnya membawa Anda. Mereka diburu. Mereka tidak bisa masuk ke supermarket dan membeli sesuatu."
Keputusan Baxendale untuk menjauh dari sorotan publik mencerminkan dilema yang kerap dihadapi selebritas: antara mengejar popularitas atau menjaga privasi. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi di kalangan artis yang memilih mundur dari industri hiburan karena tekanan mental. Kasus seperti ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap panggung, ada harga yang harus dibayar—baik secara psikologis maupun sosial.
Kini, Baxendale menikmati hidup yang lebih tenang di Inggris, jauh dari hiruk-pikuk Hollywood. Ia mengaku bersyukur atas pengalaman masa lalunya, meski tak ingin mengulanginya. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi para talentanya, sehingga mereka tidak perlu memilih antara karier cemerlang dan kesehatan mental?



