Gempa Selat Sunda dan Erupsi Beruntun Anak Krakatau: Waspada Level Siaga
Baca dalam 60 detik
- Gempa M5,3 dangkal akibat subduksi mengguncang Selat Sunda dini hari tadi, tanpa potensi tsunami.
- Gunung Anak Krakatau meletus lima kali dalam rentang sembilan jam dengan kolom abu mencapai 250 meter.
- Status Siaga (Level III) dipertahankan; masyarakat diimbau menjauhi radius 3 km dari kawah aktif.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang perairan Selat Sunda, Banten, pada Rabu (8/7) pukul 02.44 WIB, memicu kekhawatiran akan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang nyaris bersamaan menunjukkan erupsi beruntun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, namun masyarakat tetap diimbau waspada terhadap bangunan retak.
Menurut analisis BMKG, pusat gempa berada 62 kilometer barat daya Sumur, Banten, dengan kedalaman dangkal. Mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik (thrust fault) yang lazim terjadi di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Hingga pukul 03.05 WIB, belum terdeteksi gempa susulan.
Yang menarik perhatian adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang meningkat drastis sejak dini hari. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi Magma Indonesia, gunung berapi di Selat Sunda itu telah meletus lima kali dalam rentang pukul 00.11 WIB hingga 09.35 WIB. Erupsi pertama terjadi tengah malam dengan amplitudo 24 mm selama 40 detik, namun kolom abu tidak teramati karena gelap. Letusan berikutnya pada pukul 05.50 WIB menyemburkan abu setinggi 250 meter berwarna kelabu hingga hitam ke arah barat laut, terekam dengan amplitudo 26,1 mm selama 44 detik.
Erupsi ketiga pada pukul 07.11 WIB kembali mencatat ketinggian kolom abu 250 meter dengan amplitudo 44,4 mm, meski durasinya lebih pendek (31 detik). Menjelang siang, intensitas letusan sempat menurun: pada pukul 08.42 WIB, tinggi kolom abu hanya 100 meter dengan warna hitam tebal, amplitudo 35 mm selama 40 detik. Namun, letusan kelima pada pukul 09.35 WIB kembali meningkat menjadi 200 meter dengan amplitudo 49 mm, meski durasi lebih singkat (27 detik). Pola ini menunjukkan fluktuasi energi yang masih tinggi.
Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran di Anyer, Serang, masih mempertahankan status Siaga (Level III) untuk Gunung Anak Krakatau. Artinya, aktivitas magmatik terus berlangsung dan berpotensi menimbulkan bahaya. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer. PVMBG juga mengingatkan potensi ancaman awan panas, lontaran material pijar, dan tsunami sekunder jika terjadi longsoran tubuh gunung ke laut โ skenario yang pernah terjadi pada 2018 silam.
Bagi warga di pesisir Banten dan Lampung, kejadian ini menjadi pengingat akan dinamika geologi Selat Sunda yang kompleks. Gempa dangkal dan erupsi vulkanik kerap terjadi bersamaan meski tidak selalu berkorelasi langsung. Pertanyaan yang mengemuka: apakah rangkaian erupsi ini akan mereda dalam beberapa hari ke depan, atau justru menjadi awal fase erupsi yang lebih besar? Yang jelas, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi PVMBG menjadi kunci keselamatan.



