Bencana China: 17 Tewas, 130.000 Mengungsi Akibat Topan dan Banjir Bandang
Baca dalam 60 detik
- Topan Maysak dan hujan deras memicu banjir di Guangxi dan Hubei, menewaskan sedikitnya 17 orang dan memaksa evakuasi massal.
- Bendungan jebol dan 40 sungai meluap merendam lahan pertanian, sementara longsor di Gansu menambah korban jiwa menjadi 21.
- Pemerintah China mengerahkan bantuan darurat dan dana rekonstruksi, dengan peringatan banjir masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

Bencana alam kembali melanda China dengan keganasan yang jarang terjadi. Topan Maysak yang menerjang wilayah selatan dan tengah negara itu sejak awal pekan ini telah menewaskan sedikitnya 17 orang, memaksa lebih dari 130.000 warga mengungsi, serta menyebabkan puluhan sungai meluap dan satu bendungan jebol. Pemerintah setempat masih terus melakukan pencarian terhadap korban hilang di tengah peringatan bahwa hujan deras diperkirakan masih akan berlangsung hingga Rabu (8/7).
Provinsi Guangxi menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Otoritas setempat melaporkan enam orang tewas dan lebih dari 130.000 jiwa dievakuasi setelah hujan lebat dan banjir bandang yang dipicu oleh Topan Maysak. Banjir lumpur berkecepatan tinggi meluap dari 40 sungai dan saluran air di Guangxi, merusak hampir 13.000 hektare lahan pertanian. Rekaman dari stasiun televisi nasional CCTV memperlihatkan air bah yang menerjang dinding beton jebol sebuah bendungan di Guangxi, sementara tim penyelamat dengan rompi pelampung dikerahkan menggunakan perahu karet.
Kementerian Sumber Daya Air China, melalui Menteri Li Guoying, memperingatkan bahwa puncak banjir yang melampaui ketinggian peringatan lebih dari enam meter diperkirakan akan mencapai Stasiun Hidrologi Wuzhou di Guangxi pada Kamis dini hari. โKarena dampak hujan lebat yang terus-menerus dan aliran banjir yang berkepanjangan pada level tinggi, keamanan waduk dan tanggul di daerah yang terkena dampak menghadapi ujian berat,โ ujarnya. Pemerintah pusat telah mengirimkan bantuan tambahan seperti makanan, jas hujan, dan perahu karet ke wilayah tersebut, serta mempertahankan status tanggap darurat banjir level kedua, level tertinggi kedua dalam sistem peringatan China.
Sementara itu, di Provinsi Hubei, China tengah, badai petir dan angin kencang menewaskan 11 orang dan melukai 331 lainnya pada Senin malam. Otoritas melaporkan satu orang masih hilang, 4.800 rumah rusak, dan 22 rumah roboh. Di Provinsi Gansu, barat laut China, tanah longsor yang terjadi pada Selasa pagi menewaskan 21 orang setelah mengubur 33 orang di Desa Rencang, Kabupaten Dangchang. Operasi pencarian dan penyelamatan telah dihentikan, dan penyebab longsor masih dalam penyelidikan. Pemerintah setempat telah mengalokasikan 30 juta yuan (sekitar Rp66 miliar) untuk dana rekonstruksi pascabencana.
Bagi Indonesia, rangkaian bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Meskipun secara geografis berjauhan, pola sirkulasi monsun Asia kerap mempengaruhi musim hujan di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan potensi peningkatan curah hujan ekstrem di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa pekan mendatang. Pengalaman China dalam evakuasi massal dan manajemen darurat banjir dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia yang juga sering menghadapi banjir bandang dan tanah longsor, terutama di musim penghujan.
Presiden China Xi Jinping telah memerintahkan tim penyelamat untuk โmengerahkan segala upayaโ dalam operasi darurat. Pertanyaannya kini, mampukah infrastruktur dan sistem peringatan dini China menahan gempuran bencana yang kian sering terjadi? Ataukah perubahan iklim akan terus memperparah frekuensi dan intensitas bencana di masa depan?



