Santorini Memanas: Pembuat Anggur Berinovasi di Tengah Kekeringan Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas dan minim hujan 2023–2025 mematikan tanaman anggur berusia 90 tahun di Santorini, memicu krisis produksi anggur.
- Produsen lokal menguji daur ulang air limbah rumah tangga dan hotel sebagai solusi irigasi yang lebih murah daripada desalinasi.
- Persaingan air antara petani, turis, dan hotel semakin ketat, mengancam keberlanjutan sektor anggur di Mediterania.

Seorang pembuat anggur di pulau Santorini, Yunani, menunjuk tanaman anggur kouloura yang mengering—semak berusia 90 tahun yang akhirnya mati akibat panas dan kekeringan ekstrem. Peristiwa ini menjadi simbol krisis yang melanda perkebunan anggur di pulau vulkanik tersebut, di mana curah hujan rendah dan suhu membara selama tiga tahun terakhir telah menggandakan harga buah anggur, memangkas produksi hingga setengahnya, dan memicu kekhawatiran serius akan pasokan air.
Yiannis Boutaris, generasi keenam pembuat anggur yang memimpin Domaine Sigalas, mengungkapkan bahwa kombinasi minimnya hujan dan berkurangnya perawatan tradisional telah mempercepat kematian kebun-kebun tua. “Kami tidak meninggalkan tradisi, tetapi harus menyesuaikan kebun anggur dengan keadaan baru,” ujarnya. Boutaris kini tengah menguji proyek percontohan bersama otoritas setempat dan ilmuwan untuk memanfaatkan air limbah dari rumah dan hotel sebagai irigasi—sebuah praktik yang sudah diterapkan di California dan dinilai lebih berkelanjutan serta hemat energi dibandingkan desalinasi mahal.
Selain daur ulang air, Boutaris juga bereksperimen dengan penanaman anggur dalam barisan rapi—berbeda dari cara tradisional yang tersebar—guna meningkatkan efisiensi irigasi. Teknologi lain yang diujicobakan adalah pemanenan air atmosferik, yang menangkap kelembapan udara menggunakan hidrogel lalu mengubahnya menjadi air dengan bantuan panas panel surya. Langkah-langkah ini lahir dari tekanan yang semakin besar: setiap musim panas, jutaan turis membanjiri Santorini, memicu persaingan sengit antara petani, pemilik hotel, dan operator kolam renang untuk memperebutkan pasokan air yang menipis.
Stefanos Koundouras, profesor vitikultur dari Universitas Aristoteles Thessaloniki, menegaskan bahwa kondisi dramatis Santorini pada 2023–2024 telah mencapai batas. “Kami sudah melihat masalah pada kualitas dan karakter khas anggur,” katanya. Ia memperingatkan bahwa sektor anggur di seluruh Eropa, khususnya kawasan Mediterania, akan semakin tidak berkelanjutan jika suhu terus naik dan curah hujan semakin tidak menentu. Sementara itu, pembuat anggur lain, Yiannis Papaeconomou, berencana bergabung dengan proyek air limbah untuk kebun anggurnya yang berusia enam tahun. Ia juga menerapkan sistem irigasi bawah tanah guna mengurangi penguapan dan merambatkan tanaman agar penyiraman lebih efisien. “Kita harus beradaptasi dan menemukan jalan keluar dengan cara berpikir baru,” ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Santorini menjadi pengingat akan kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim. Dengan musim kemarau yang semakin panjang dan pola hujan yang tak menentu, petani anggur di Nusantara—misalnya di Bali atau Jawa Timur—mungkin perlu mengadopsi teknik serupa, seperti irigasi tetes atau pemanenan air hujan, untuk menjaga produktivitas. Pertanyaannya, mampukah inovasi lokal mengimbangi laju krisis iklim yang kian tak terprediksi?



