Rupiah Terjebak di Rp18.000/US$ Lagi, Konflik Timur Tengah dan Dolar Kuat Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, setelah sebelumnya sempat membaik.
- Tekanan datang dari penguatan indeks dolar AS dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak serta ketidakpastian global.
- Cadangan devisa Indonesia yang naik tipis menjadi US$145,6 miliar belum cukup meredam kekhawatiran pasar akan stabilitas rupiah ke depan.

Rupiah kembali terperosok ke level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu pagi (8/7/2026), menandai tekanan baru terhadap mata uang Garuda di tengah eskalaasi geopolitik dan penguatan greenback global. Setelah sempat stagnan di Rp17.970/US$ saat pembukaan, rupiah melemah 0,17% dan menyentuh Rp18.000/US$ pada pukul 10.11 WIB berdasarkan data Refinitif.
Level ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan kerentanan rupiah yang masih tinggi. Sebelumnya, pada perdagangan intraday Senin (6/7/2026), rupiah juga sempat menembus angka yang sama sebelum ditutup sedikit lebih kuat di Rp17.995/US$. Kini, tekanan kembali menguat seiring sentimen eksternal yang memburuk.
Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,10% ke level 101,126 pada pukul 09.00 WIB, menunjukkan permintaan terhadap aset safe-haven masih tinggi. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran, menyusul insiden penyerangan terhadap tanker di Selat Hormuz. Situasi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak mentah naik, yang pada gilirannya meningkatkan ekspektasi inflasi dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, meningkat tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$144,9 miliar. Meskipun ada kenaikan, pasar masih mencermati kemampuan cadangan tersebut untuk menahan gejolak nilai tukar. Para analis menilai bahwa tekanan eksternal yang kuat membutuhkan intervensi yang lebih agresif dari otoritas moneter.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, pelemahan rupiah ini berdampak langsung pada sektor impor, utang luar negeri korporasi, dan daya beli masyarakat. Harga barang-barang impor berpotensi naik, sementara perusahaan yang memiliki pinjaman dalam dolar AS akan menghadapi beban pembayaran yang lebih besar. Investor asing juga cenderung wait and see sebelum menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan sinyal kebijakan The Fed. Jika ketegangan mereda dan harga minyak stabil, rupiah mungkin kembali menguat. Namun, jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin level Rp18.000/US$ akan menjadi support baru yang sulit ditembus. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi skenario terburuk?



