Karachi Dinobatkan sebagai Kota Terburuk Ketiga di Dunia: Indeks EIU 2026
Baca dalam 60 detik
- Karachi menempati peringkat 170 dari 173 kota dalam Global Liveability Index 2026 versi Economist Intelligence Unit, hanya unggul dari Dhaka, Tripoli, dan Damaskus.
- Skor rendah di stabilitas (20) dan infrastruktur (52) menjadi faktor utama, sementara pendidikan justru mencatat nilai tinggi (75).
- Konflik Timur Tengah turut memengaruhi peringkat kota-kota seperti Muscat dan Doha, yang anjlok akibat ketegangan Iran-AS.

Karachi, ibu kota Pakistan, kembali menempati posisi ketiga terbawah dalam daftar kota paling tidak layak huni di dunia versi Economist Intelligence Unit (EIU). Dalam Global Liveability Index 2026 yang dirilis baru-baru ini, kota dengan populasi lebih dari 20 juta jiwa itu hanya unggul dari Dhaka, Tripoli, dan Damaskus. Peringkat ini menjadi alarm bagi pemerintah setempat untuk segera membenahi berbagai sektor yang dinilai buruk.
Indeks EIU mengukur lima indikator utama: stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Karachi memperoleh skor total 43 dari 100, sama dengan Aljir. Angka ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi warga sehari-hari, mulai dari kemacetan parah hingga tingkat kriminalitas yang tinggi. Menurut EIU, kota-kota besar cenderung terhukum dalam indeks ini karena masalah kepadatan dan keamanan.
Yang menarik, pendidikan menjadi satu-satunya sektor yang cukup kuat bagi Karachi dengan skor 75. Namun, capaian itu tidak cukup untuk mengangkat peringkat keseluruhan. Sementara itu, kota-kota lain yang dilanda konflik seperti Teheran (164) dan Kyiv (166) justru berada di atas Karachi. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keamanan dan stabilitas politik menjadi penentu utama dalam penilaian EIU.
Dampak konflik Timur Tengah juga terlihat jelas dalam edisi tahun ini. Muscat, ibu kota Oman, mengalami penurunan paling tajamโturun 14 peringkat ke posisi 123โsetelah serangkaian serangan drone Iran. Doha, yang dikenal sebagai magnet ekspatriat, merosot tujuh peringkat ke posisi 108. Dubai dan Abu Dhabi masing-masing turun empat peringkat ke posisi 79 dan 76. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik secara langsung memengaruhi kualitas hidup di kawasan tersebut.
Bagi Indonesia, hasil indeks ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi pada stabilitas dan infrastruktur perkotaan. Jakarta, yang kerap menghadapi masalah serupa seperti kemacetan dan banjir, perlu terus memantau peringkatnya dalam indeks serupa. Meski tidak termasuk dalam daftar 173 kota tahun ini, kota-kota besar di Indonesia harus belajar dari kasus Karachi agar tidak terperosok ke dalam kategori tidak layak huni.
Di sisi lain, kota-kota paling layak huni masih didominasi oleh Eropa dan Australia. Copenhagen kembali menduduki peringkat pertama, disusul Wina dan Melbourne. Vancouver menjadi satu-satunya kota Amerika Utara di sepuluh besar (peringkat 9), sementara Tokyo (10) menjadi satu-satunya megacity yang mampu bersaing. Pola ini menegaskan bahwa ukuran kota tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas hidup.
Ke depan, apakah Karachi mampu keluar dari posisi terbawah? Perbaikan besar-besaran di sektor keamanan dan infrastruktur menjadi prasyarat mutlak. Tanpa perubahan fundamental, bukan tidak mungkin kota ini akan terus berkutat di dasar indeks dalam beberapa tahun mendatang.



