Rupiah Terjebak di Rp17.970, Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal The Fed Jadi Beban
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah dibuka tanpa perubahan di level Rp17.970 per dolar AS pada Rabu (8/7/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup menguat tipis 0,08%.
- Eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat dolar AS.
- Pasar menanti risalah rapat The Fed Juni yang akan dirilis Kamis dini hari, dengan probabilitas kenaikan suku bunga 25 bps pada Juli hanya 27,3%.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mandek di posisi Rp17.970 pada pembukaan perdagangan Rabu (8/7/2026), melanjutkan tren stagnasi yang membayangi pasar keuangan domestik. Meskipun sehari sebelumnya mata uang Garuda berhasil menguat tipis 0,08% ke level yang sama, tekanan dari faktor eksternalโterutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah suku bunga The Fedโmembuat pergerakan rupiah seperti berjalan di tempat.
Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat 0,10% ke level 101,126, menandakan bahwa greenback masih perkasa di hadapan mayoritas mata uang utama. Penguatan ini sebagian besar didorong oleh aksi safe haven menyusul serangan balasan AS terhadap Iran yang dilaporkan terjadi setelah insiden penyerangan terhadap sejumlah tanker di Selat Hormuz. Selat yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas global itu kini kembali menjadi pusat perhatian karena potensi gangguan pasokan energi dapat memicu lonjakan harga minyak dan inflasi global.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga energi akan membebani anggaran subsidi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Lebih jauh, tekanan inflasi global akibat mahalnya energi dapat membuat bank sentral AS (The Fed) lebih enggan melonggarkan kebijakan moneternya, yang pada akhirnya memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih dalam.
Pelaku pasar kini menanti risalah rapat The Fed periode Juni yang akan dirilis pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Dokumen tersebut diyakini akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai sikap para pengambil kebijakan setelah data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan perlambatan. Saat ini, berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli hanya 27,3%, sementara 72,7% lainnya memperkirakan suku bunga akan dipertahankan. Angka ini menunjukkan bahwa pasar masih terbelah dalam membaca arah kebijakan moneter AS ke depan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia meningkat tipis dari US$144,9 miliar pada akhir Mei menjadi US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026. Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, kenaikan ini didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, meskipun di saat bersamaan pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri dan BI menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar. Dengan posisi tersebut, cadangan devisa setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, masih di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor.
Meski cadangan devisa tergolong aman, tekanan terhadap rupiah belum mereda. Konflik di Timur Tengah yang masih panas dan ketidakpastian suku bunga global membuat investor cenderung menghindari aset berisiko, termasuk rupiah. Pertanyaannya, seberapa lama BI dapat bertahan mengandalkan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan, sementara sentimen eksternal terus menghantam?



