Saham BACH Mentok ARA di Hari Pertama, Grup Djarum Kantongi Rp307 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Emiten Grup Djarum, PT Bach Multi Global Tbk (BACH), langsung menyentuh batas atas saat debut di BEI dengan harga Rp550 per saham.
- Dana IPO sebesar Rp307,5 miliar akan digunakan untuk modal kerja pembelian genset dan pembayaran utang bank.
- Manajemen menargetkan pendapatan tembus Rp3 triliun pada 2030, didorong ekspansi bisnis penyewaan genset dan proyek telekomunikasi.

PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten penyewaan genset milik Grup Djarum, langsung menyentuh batas atas otomatis (ARA) pada perdagangan perdananya di Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/7/2026). Saham BACH dibuka di level Rp550, melesat 24,43% dari harga penawaran perdana yang dipatok di kisaran Rp400โRp500 per lembar.
Dalam aksi korporasi ini, perseroan melepas 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, BACH berhasil mengantongi dana segar hingga Rp307,5 miliar. Direktur Utama BACH Budi Kurniawan menyebut sambutan pasar yang positif mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perseroan.
Kinerja keuangan BACH pada 2025 menjadi daya tarik utama. Pendapatan melonjak hampir 40% menjadi sekitar Rp1,73 triliun, sementara laba bersih meroket 97,5% menjadi Rp155 miliar. Margin laba bersih pun naik dari 6,3% menjadi 9%. Pertumbuhan ini ditopang oleh bisnis penjualan genset yang meningkat lebih dari 93% secara tahunan dan bisnis penyewaan genset yang melonjak lebih dari 1.200%.
Selain genset, segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menjadi andalan pendapatan berulang (recurring income) melalui kontrak jangka panjang. Model bisnis ini memberikan stabilitas arus kas di tengah fluktuasi permintaan genset musiman.
Dana hasil IPO akan dialokasikan secara strategis. Sekitar 70% digunakan sebagai modal kerja untuk pembelian genset guna memenuhi permintaan penjualan dan penyewaan. Sisanya, 30%, dipakai untuk membayar sebagian pinjaman bank, sehingga struktur permodalan semakin kuat dan leverage menurun. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung ekspansi tanpa membebani neraca keuangan.
Ke depan, manajemen BACH menargetkan pendapatan tumbuh dari Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi lebih dari Rp3 triliun pada 2030, dengan rata-rata pertumbuhan 12% per tahun. Laba bersih diproyeksikan melonjak hingga Rp401 miliar, naik 158% dari level saat ini. Target tersebut akan dicapai melalui penambahan kapasitas penyewaan pembangkit listrik sebesar 50 MW per tahun, pengembangan lini energi baru, peningkatan proyek telekomunikasi, serta digitalisasi operasional.
Bagi investor Indonesia, debut BACH menjadi sinyal positif bagi sektor pendukung infrastruktur dan energi. Dengan tren elektrifikasi dan pembangunan jaringan telekomunikasi yang terus berlanjut, permintaan terhadap genset dan jasa konstruksi diprediksi tetap tinggi. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas dan suku bunga perlu diwaspadai. Apakah BACH mampu mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah persaingan ketat? Waktu yang akan menjawab.



