Pramono Anung Dorong Jalur Bawah Tanah Hubungkan Senayan City dan Plaza Senayan, Siap Naikkan Pajak Jika Mandek
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta menginisiasi pembangunan jalur bawah tanah yang menghubungkan Senayan City dan Plaza Senayan untuk mengurangi kemacetan di kawasan Senayan.
- Rencananya, jalur tersebut juga akan difungsikan sebagai ruang usaha bagi UMKM, meniru konsep konektivitas bawah tanah di Bundaran HI.
- Gubernur Pramono Anung mengancam akan menaikkan pajak kedua mal jika pengelola tidak segera merealisasikan konektivitas tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong pembangunan jalur bawah tanah yang menghubungkan dua pusat perbelanjaan utama di kawasan Senayan, yaitu Senayan City dan Plaza Senayan. Langkah ini diambil untuk memperkuat konektivitas pejalan kaki sekaligus mengurai kemacetan yang kerap terjadi di Jalan Asia Afrika, jalan yang memisahkan kedua mal tersebut.
Pramono menilai bahwa ketiadaan penghubung antara kedua mal selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan di kawasan tersebut. "Kalau di Senayan, Plaza Senayan dengan Senayan City ini kan kalau tidak dihubungkan di bawah itu sangat mengganggu transportasi dan seringkali menyebabkan kemacetan," ujarnya di Jakarta Selatan, Selasa (7/7). Menurutnya, dengan menyambungkan kedua pusat perbelanjaan, pengunjung dapat berpindah lokasi tanpa harus menyeberang jalan, sehingga arus lalu lintas di sekitar kawasan menjadi lebih tertata.
Selain sebagai solusi transportasi, Pramono berencana memanfaatkan ruang bawah tanah tersebut untuk kegiatan ekonomi. "Ruang di bawahnya bisa dimanfaatkan untuk berjualan UMKM dan sebagainya," katanya. Konsep ini mirip dengan yang telah diterapkan di kawasan Bundaran HI, di mana jalur bawah tanah menghubungkan sejumlah hotel besar seperti Grand Hyatt, Pullman, Mandarin Oriental, dan Kempinski, serta terintegrasi dengan stasiun MRT. Di lokasi tersebut, ruang bawah tanah juga digunakan untuk lapak UMKM.
Pramono mengakui bahwa selama ini kedua pusat perbelanjaan tersebut belum terhubung karena adanya ego masing-masing pihak. Oleh karena itu, Pemprov DKI mendorong keduanya untuk segera merealisasikan konektivitas tersebut. Ia bahkan menyiapkan langkah tegas apabila kedua pengelola tak kunjung menyepakati pembangunan jalur penghubung. "Saya bilang, kalau tidak mau disambungkan, ya sudah, pajaknya kita naikkan karena mengganggu lalu lintas. Itulah cara kerja kita. Jadi kita tidak usah repot, pajaknya dinaikkan saja, pasti mereka akan bersedia untuk bernegosiasi karena hal itu saling menguntungkan mereka berdua," tegasnya.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI membangun konektivitas antarkawasan di Jakarta. Pramono menekankan bahwa pembangunan infrastruktur pejalan kaki menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan kota yang lebih nyaman dan ramah bagi masyarakat. Dengan adanya jalur bawah tanah, diharapkan kawasan Senayan tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan yang terintegrasi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Plaza Senayan dan Senayan City terletak saling berseberangan di Jalan Asia Afrika. Di dalam kawasan yang sama, terdapat pula pusat perbelanjaan Senayan Trade Center (STC) yang sejajar dengan Plaza Senayan. Rencana penghubungan ini diharapkan dapat segera terealisasi, mengingat proyek serupa di Bundaran HI yang lebih kompleks telah berhasil diselesaikan. Pertanyaannya, mampukah kedua pengelola mal mengesampingkan ego dan berkolaborasi demi kepentingan publik?



