IHSG Menguat 1,19% di Tengah Aksi Jual Asing dan Ketegangan Global
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup menguat 1,19% ke 5.986,50, didorong saham perbankan besar, meski investor asing masih mencatat jual bersih Rp205 miliar.
- MSCI mempertahankan index freeze untuk saham Indonesia hingga Agustus 2026, menunda potensi masuknya saham baru ke indeks global.
- Dana IPO yang gagal terserap sekitar Rp12,6 triliun berpotensi kembali ke pasar dan meningkatkan likuiditas bursa.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mematahkan tren pelemahan dengan ditutup menguat 1,19% ke level 5.986,50 pada perdagangan Selasa (7/7). Penguatan ini terjadi di tengah tekanan jual asing yang masih berlanjut dan ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan indeks terutama ditopang oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BBNI, sementara saham BRMS, INDF, dan ICBP justru menjadi pemberat terbesar.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp205,38 miliar di pasar reguler dan Rp176,83 miliar di seluruh pasar. Meski demikian, optimisme pasar domestik masih terjaga, tercermin dari penguatan ETF EIDO sebesar 1,08% dan indeks MSCI Indonesia yang naik 2,07%. Dari sisi sektoral, 10 dari 11 sektor berakhir di zona hijau, dengan sektor properti memimpin kenaikan sebesar 3,23%. Sektor teknologi menjadi satu-satunya yang melemah, turun 0,54%.
Di pasar global, bursa Amerika Serikat ditutup melemah: Dow Jones turun 0,25%, S&P 500 melemah 0,45%, dan Nasdaq terkoreksi 1,16%. Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran kembali menyerang kapal komersial di Selat Hormuz, yang mengancam jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Kondisi ini berpotensi memicu volatilitas harga energi dan mempengaruhi pasar saham global, termasuk Indonesia.
Keputusan MSCI untuk mempertahankan kebijakan index freeze bagi saham Indonesia pada Index Review Agustus 2026 menjadi sorotan. Dengan kebijakan ini, tidak ada penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), tidak ada perubahan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS), serta belum ada perpindahan saham dari indeks Small Cap ke Standard Index. MSCI menegaskan evaluasi terhadap reformasi pasar modal Indonesia masih berlanjut, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham, metode penentuan free float, dan aksesibilitas pasar bagi investor global. Bagi investor di Indonesia, keputusan ini berarti arus modal asing ke pasar saham masih akan terbatas dalam jangka pendek, meskipun prospek perbaikan tata kelola tetap diharapkan.
Di sisi korporasi, PT Indosat Tbk (ISAT) bersama anak usahanya Aplikanusa Lintasarta telah menyelesaikan divestasi 84,90% saham PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT) senilai Rp11,71 triliun. Transaksi yang efektif sejak 30 Juni 2026 ini membuat ISAT tidak lagi mengonsolidasikan IFT, namun tetap memiliki akses jaringan serat optik melalui skema lease back. Dari transaksi tersebut, ISAT menerima dana tunai Rp11,71 triliun dan membukukan keuntungan bersih dekonsolidasi sebesar Rp1,65 triliun. Posisi kas perusahaan diperkirakan melonjak dari Rp5,56 triliun pada kuartal I-2026 menjadi sekitar Rp17,47 triliun, memperkuat likuiditas untuk ekspansi ke depan.
Pasar perdana juga mencatat antusiasme tinggi. PT Niramas Utama Tbk (JELI) mengalami oversubscription 41,90 kali, sementara PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) oversubscription 5,61 kali. Total kelebihan pemesanan mencapai 13,13 miliar lembar saham, sehingga potensi pengembalian dana (refund) kepada investor mencapai sekitar Rp12,60 triliun. Dana yang kembali ini diperkirakan akan beredar di pasar sekunder dan dapat meningkatkan aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, khususnya ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi. Di sisi domestik, realisasi dana refund IPO dan kelanjutan reformasi pasar modal akan menjadi katalis penting. Akankah IHSG mampu menembus level psikologis 6.000 dalam waktu dekat?



