KOSPI Anjlok 8% dalam Sehari, Enam Kali Picu Penghentian Perdagangan Tahun Ini
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI Korea Selatan ambles 8,03% pada Selasa, memicu circuit breaker untuk keenam kalinya pada 2024 di tengah aksi jual besar-besaran saham semikonduktor.
- Saham Samsung Electronics dan SK Hynix, yang sebelumnya melesat lebih dari 130% dan 220% year-to-date, justru menjadi motor penurunan karena kekhawatiran valuasi terlalu mahal dan prospek AI mulai diragukan.
- Koreksi ini mengirim sinyal waspada bagi pasar global, termasuk Indonesia, mengingat rantai pasok semikonduktor dan sentimen investor teknologi saling terhubung.

Bursa Korea Selatan kembali berguncang setelah indeks KOSPI ambles hingga 8,03% pada perdagangan Selasa (23/7), memicu mekanisme penghentian sementara perdagangan (circuit breaker) untuk keenam kalinya sepanjang tahun ini. Aksi jual massal dipimpin oleh saham-saham semikonduktor, sektor yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli pasar, kini justru menjadi biang kerugian terbesar.
Indeks acuan Korea Selatan itu ditutup di level 7.404,48, turun 646,85 poin dari posisi sebelumnya. Lonjakan volatilitas yang ekstrem memaksa otoritas bursa mengaktifkan circuit breaker selama 20 menit pada pukul 12.51 waktu setempat. Ini merupakan kali ke-12 dalam sejarah KOSPI mekanisme serupa diaktifkan, namun frekuensi tahun ini—enam kali—menunjukkan betapa gentingnya situasi di pasar saham Negeri Ginseng.
Saham raksasa teknologi Samsung Electronics ambrol 9,75% meski perusahaan baru saja merilis proyeksi laba operasional kuartal kedua yang melonjak 19 kali lipat dibanding periode sama tahun lalu. Paradoks ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa kinerja gemilang tersebut sudah sepenuhnya tercermin dalam harga saham setelah reli panjang. SK Hynix, produsen memori terbesar kedua, juga terperosok 10,58%, sementara saham semikonduktor Jepang seperti Kioxia ikut tertekan lebih dari 10%.
Analis menilai tekanan jual ini bukan semata-mata karena fundamental sektor yang memburuk, melainkan lebih pada aksi ambil untung dan ekspektasi pasar yang sudah melampaui batas wajar. Seo Sang-young, analis dari Mirae Asset Securities, mengatakan bahwa kabar baik berupa laba fantastis justru tidak bisa diartikan sepenuhnya positif karena pasar sudah terlalu optimistis. "Kekhawatiran bahwa laba tinggi tidak akan berkelanjutan semakin menguat," ujarnya. Senada, Han Ji-young dari Kiwoom Securities menambahkan bahwa meskipun fundamental sektor chip masih solid, kebisingan seputar AI dan permintaan yang tidak menentu terus memicu volatilitas.
Koreksi ini tidak hanya melanda saham teknologi. LG Energy Solution, produsen baterai kendaraan listrik, merosot 8,74% setelah mengumumkan perkiraan laba operasional kuartal kedua yang turun 77% akibat lesunya permintaan EV. Sementara itu, Hanwha Ocean terjun bebas 24,29% setelah Kanada memilih kapal selam buatan Jerman ketimbang produk Korea Selatan dalam kontrak militer bernilai miliaran dolar.
Bagi Indonesia, gejolak di bursa Korea Selatan patut dicermati. Sebagai salah satu pemasok utama komponen semikonduktor dan baterai global, koreksi harga saham perusahaan-perusahaan Korea dapat mempengaruhi rantai pasok elektronik dan kendaraan listrik di Tanah Air. Selain itu, aksi jual besar-besaran oleh investor asing di KOSPI—mencapai 3,3 triliun won (setara Rp 38 triliun)—bisa menjadi sinyal pergeseran sentimen risiko global yang berpotensi merembet ke pasar emerging market seperti Indonesia. Nilai tukar won yang menguat tipis terhadap dolar AS (1.523,5 per dolar) belum cukup menenangkan pelaku pasar.
Pertanyaan besar kini menggantung: apakah koreksi ini hanya sekadar koreksi sehat setelah reli panjang, atau awal dari tren bearish yang lebih dalam? Dengan valuasi saham semikonduktor yang masih tinggi dan ketidakpastian permintaan AI yang belum reda, investor global tampaknya akan terus mencermati pergerakan KOSPI sebagai barometer kesehatan sektor teknologi dunia.



