IHSG Terperosok Hampir 1% di Sesi Awal: S&P Pantau Status Emerging Market, Konflik Iran-AS Mencekik
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka turun tipis 0,04% namun dalam hitungan menit longsor nyaris 1% ke 5.932, dipicu eskalasi konflik Iran-AS dan kenaikan harga minyak.
- S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia dalam watchlist 2027, membuka potensi reklasifikasi dari emerging market ke frontier โ sinyal waspada bagi investor asing.
- Bursa Asia-Pasifik kompak melemah, investor global wait and see jelang rilis risalah FOMC yang bisa memberi sinyal kenaikan suku bunga The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan pelemahan tipis pada Selasa (7/7/2026), namun tak butuh waktu lama bagi tekanan jual untuk menggerusnya hampir 1% ke level 5.932. Dalam 30 menit pertama perdagangan, nilai transaksi baru mencapai Rp163 miliar, menandakan investor masih menahan diri di tengah badai sentimen global yang datang bertubi-tubi.
Pemicu utama koreksi ini adalah kombinasi antara memanasnya konflik Amerika Serikat-Iran dan keputusan S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan (watchlist) untuk reklasifikasi pasar pada 2027. Militer AS kembali menyerang Iran dan mencabut lisensi penjualan minyak Teheran setelah tiga kapal tanker diserang di Selat Hormuz. Langkah itu langsung mendorong harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3%, membebani pasar-pasar yang bergantung pada energi impor, termasuk Indonesia.
Sementara itu, S&P Dow Jones Indices mengumumkan bahwa Indonesia, bersama Turki dan Nigeria, masuk dalam watchlist tahunan 2027. Artinya, status Indonesia sebagai emerging market berpotensi diturunkan menjadi special measures atau frontier market. Meski belum ada keputusan final, masuknya Indonesia ke dalam daftar pantauan menjadi peringatan dini bagi para investor asing yang selama ini menempatkan dana di pasar saham Tanah Air. Reklasifikasi semacam ini bisa memicu arus keluar modal portofolio jika fund manager global menyesuaikan alokasi aset mereka.
Tekanan juga datang dari bursa global. Wall Street ditutup melemah pada Selasa (6/7) dengan Dow Jones turun lebih dari 100 poin, S&P 500 melemah 0,5%, dan Nasdaq ambrol 1,2% akibat aksi ambil untung di saham-saham AI dan teknologi. Di Asia, hampir seluruh bursa dibuka di zona merah: Nikkei turun 0,55%, Kospi melemah 0,72%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 1,36%. Kekhawatiran akan meluasnya konflik Timur Tengah menjadi beban utama, ditambah sikap wait and see menjelang rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni yang dijadwalkan Rabu waktu AS. Risalah itu diyakini akan memberikan gambaran lebih jelas tentang arah suku bunga di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, yang sebelumnya memberi sinyal masih ada ruang kenaikan jika inflasi tak kunjung mereda.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa memperburuk defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, potensi downgrade status pasar oleh S&P dapat mengurangi minat investor asing terhadap saham-saham domestik. Meski keputusan final baru akan diambil pada 2027, efek antisipasi sudah terasa. Pelaku pasar kini dihadapkan pada pertanyaan: apakah IHSG mampu bertahan di level psikologis 5.900, atau justru melanjutkan koreksi menuju support berikutnya?



