Badai Menerjang China: 17 Tewas, Ratusan Luka, dan Ribuan Rumah Rusak
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras dan angin kencang akibat Topan Maysak serta badai petir di China selatan dan tengah menewaskan 17 orang, melukai 331 lainnya, dan memaksa evakuasi lebih dari 130.000 warga.
- Di Guangxi, tanggul bendungan jebol dan 40 sungai meluap, sementara di Hubei tornado merusak 4.800 rumah; seorang warga dilaporkan tersedot angin hingga tak sadarkan diri.
- Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya penyelamatan maksimal, sementara para ilmuwan memperingatkan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem seiring pemanasan globalโsebuah pengingat bagi Indonesia yang juga rawan bencana hidrometeorologi.

Presiden China Xi Jinping memerintahkan mobilisasi penuh tim penyelamat setelah serangkaian badai dahsyat melanda wilayah selatan dan tengah negeri itu, menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 331 lainnya hingga Selasa (7/7). Bencana yang dipicu oleh sisa-sisa Topan Maysak dan badai petir ekstrem ini juga memaksa evakuasi lebih dari 130.000 penduduk, terutama di Provinsi Guangxi dan Hubei.
Di Guangxi, yang menjadi episentrum terparah, video yang disiarkan stasiun televisi nasional CCTV memperlihatkan air berlumpur deras menerobos dinding beton tanggul bendungan yang jebol. Tim penyelamat berseragam pelampung menyusuri permukaan air dengan perahu karet mencari korban hilang. Otoritas setempat menaikkan status tanggap darurat banjir ke level tertinggi di ibu kota provinsi, Nanning. Sebanyak 40 sungai dan saluran air dilaporkan meluap, sementara hampir 13.000 hektare lahan pertanian terendam.
Fenomena tak biasa terjadi di sebuah kota di Guangxi: sekitar 800โ900 ular dari peternakan yang hanyut terbawa banjir berenang di permukaan air setinggi lutut warga. Video warga berusaha menangkap ular-ular itu viral di media sosial dengan lebih dari 180 juta tayangan. "Peternakan itu hanyut Senin pagi," ujar Wu Zhi, kepala komite desa setempat, kepada Red Star News.
Sementara itu, di Provinsi Hubei, badai petir disertai angin kencang dan tornado merenggut 11 jiwa serta melukai 331 orang. Seorang pria bernama Wang menceritakan bahwa iparnya, Zhang, tersedot keluar rumah di Kota Huanggang oleh angin kencang dan ditemukan tak sadarkan diri di luar kompleks apartemen. "Lemari dinding, sofa, meja kopi, meja makan, dan kursi lenyap dalam sekejap. Seolah-olah seluruh bangunan dikosongkan," kata Wang kepada Xiaoxiang Morning Herald. Data resmi menyebutkan 4.800 rumah rusak dan 22 rumah roboh di Hubei.
Di luar dua provinsi utama, bencana tanah longsor di Provinsi Gansu, China barat laut, menewaskan lima orang dan masih menyisakan 12 orang hilang. Tim penyelamat berhasil menemukan 21 korban terjebak, namun lima di antaranya meninggal meski mendapat perawatan medis darurat. Pemerintah setempat telah menyiapkan dana rekonstruksi sebesar 30 juta yuan (sekitar Rp60 miliar).
Menteri Sumber Daya Air China, Li Guoying, memperingatkan bahwa hujan lebat masih akan mengguyur pesisir Guangxi dan Guangdong pada Rabu (8/7). Ia juga memperkirakan puncak banjir di Stasiun Hidrologi Guigang akan melampaui level peringatan hingga enam meter. "Keselamatan waduk dan tanggul di daerah terdampak menghadapi ujian berat akibat hujan deras yang terus-menerus dan aliran banjir tinggi yang berkepanjangan," ujarnya.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem global akan terus meningkat seiring pemanasan bumi akibat emisi bahan bakar fosil. China, sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dunia, juga menjadi raksasa energi terbarukan yang menargetkan netralitas karbon pada 2060. Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan serupa: banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung kerap melanda Nusantara, terutama saat musim hujan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 1.000 kejadian bencana hidrometeorologi setiap tahunnya.
Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur penanggulangan bencana di Indonesia sudah cukup tangguh menghadapi skenario seperti yang dialami China? Pertanyaan ini layak menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan di Tanah Air.



