Pikachu dan Pokemon Jadi Ikon Pemulihan Bencana di Jepang: Bandara Bertema Resmi Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Bandara Noto Satoyama di Wajima, Jepang, resmi berganti nama menjadi 'Noto Satoyama Pokemon With You Airport' pada 7 Juli 2026, sebagai bagian dari upaya pemulihan pasca gempa Noto 2024.
- Yayasan Pokemon With You telah menghadirkan berbagai atraksi bertema Pokemon di stasiun kereta, pemandian kaki, dan festival di wilayah terdampak, dengan tujuan menghibur masyarakat dan mendorong pariwisata.
- Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program dukungan psikologis bagi anak-anak korban bencana yang dimulai setelah gempa besar Jepang Timur 2011.

Bandara Noto Satoyama di Kota Wajima, Prefektur Ishikawa, Jepang, resmi beroperasi dengan identitas baru pada 7 Juli 2026: 'Noto Satoyama Pokemon With You Airport'. Ini adalah bandara pertama di dunia yang mengadopsi nama waralaba Pokemon, sebagai bagian dari strategi pemulihan kawasan yang hancur akibat gempa bumi dahsyat pada 1 Januari 2024.
Di dalam terminal, 111 ilustrasi Pokemon tipe Terbang menghiasi dinding, sementara balon raksasa Pikachu yang menaiki pesawat melayang di atrium. Pengunjung juga dapat menikmati video pendek eksklusif dan menu spesial di restoran bandara. Tema ini akan bertahan hingga 30 September 2029, memberikan jangka waktu yang cukup panjang untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
Gubernur Ishikawa, Yukiyoshi Yamano, dalam upacara pembukaan menyatakan kegembiraannya bahwa atraksi ini tidak hanya memikat anak-anak tetapi juga generasinya. Ia berharap kunjungan dari seluruh dunia dapat mendorong pemulihan ekonomi dan sosial di wilayah yang masih berjuang bangkit. Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Pokemon With You, Atsushi Sugimoto, menekankan bahwa bandara ini dirancang sebagai simbol pemulihan dan tempat keberangkatan yang penuh senyuman.
Yayasan Pokemon With You, yang berbasis di Tokyo, telah aktif di kawasan Noto sejak menandatangani perjanjian kemitraan komprehensif dengan Pemerintah Prefektur Ishikawa pada Juli 2024. Sejak itu, maskot Pikachu rutin mengunjungi taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak, serta berpartisipasi dalam festival lokal. Pada Mei 2026, 'Wakura Pokemon Footbath' dibuka di resor pemandian air panas Wakura Onsen di Kota Nanao, di mana banyak hotel dan penginapan tradisional masih tutup akibat kerusakan gempa. Tujuh patung Pokemon, termasuk Pikachu, dipasang di fasilitas pemandian kaki umum yang sebelumnya ditutup pascabencana.
Pemandian kaki tersebut menawarkan pemandangan Teluk Nanao yang biru dan hijau Pulau Notojima. Seorang pasangan muda yang datang bersama anaknya mengaku mengetahui atraksi ini dari media sosial dan merasa pemandangannya indah serta menenangkan. Mereka berharap semakin banyak orang datang setelah bandara dibuka kembali dengan wajah baru. Di sisi lain, pada festival Pelabuhan Nanao musim panas lalu, maskot Pikachu hadir berfoto bersama anak-anak, memberikan energi positif bagi acara tersebut. Seorang pejabat kota mengapresiasi konsistensi yayasan dalam mendukung komunitas terdampak bencana.
Di Kota Suzu, taman tepi pantai di depan Pulau Mitsukejima kini menampilkan Pokemon tipe Peri, Sylveon, bersama huruf besar 'LOVE' dan bangku bertema hati. Instalasi ini mempromosikan julukan 'Enmusubeach'โpermainan kata dari 'enmusubi' (ikatan antarmanusia) dan 'beach'โsebagai destinasi bagi pasangan. Sementara itu, Stasiun Anamizu di Jalur Kereta Noto dihiasi gerbang dekoratif dan papan stasiun bergambar Pokemon. Selama liburan musim panas dan akhir pekan berikutnya (kecuali musim dingin), bus akan beroperasi menghubungkan berbagai atraksi bertema Pokemon di area tersebut.
Bagi Indonesia, pendekatan Jepang ini menawarkan pelajaran berharga dalam rehabilitasi pascabencana. Dengan memanfaatkan waralaba global yang dicintai anak-anak, Jepang tidak hanya menghibur korban tetapi juga menciptakan daya tarik wisata baru yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi lokal. Di Indonesia, di mana bencana alam sering terjadi, kolaborasi serupa dengan merek-merek populer berpotensi menjadi model inovatif untuk membangkitkan kembali daerah terdampak. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan sektor swasta di Indonesia mengadopsi strategi serupa untuk memperkuat resiliensi dan pariwisata bencana?



