Uji Klinis Ebola untuk Strain Bundibugyo Dimulai, Harapan Baru di Tengah Wabah
Baca dalam 60 detik
- WHO memulai uji klinis bernama PARTNERS untuk mencari pengobatan spesifik virus Bundibugyo, strain Ebola yang belum memiliki vaksin atau terapi.
- Dua kandidat obat diuji: MBP134 (antibodi monoklonal dari penyintas wabah 2013-2016) dan remdesivir (antiviral COVID-19), baik sendiri maupun kombinasi.
- Hasil uji diperkirakan baru diketahui dalam beberapa bulan hingga setahun, dengan desain platform yang memungkinkan penambahan terapi baru.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis, 2 Juli 2026, mengumumkan dimulainya rekrutmen peserta untuk uji klinis yang menyasar pengobatan virus Bundibugyo, strain Ebola yang memicu wabah terbaru di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Langkah ini menjadi titik terang di tengah situasi darurat yang telah merenggut lebih dari 500 jiwa.
Uji coba bernama PARTNERS (Platform Adaptive Randomized Trial for New and Repurposed Filovirus Treatments) ini disponsori WHO dan dipimpin oleh Institut National de Recherche Biomédicale (INRB) di DRC. Kolaborasi melibatkan Institute of Tropical Medicine di Belgia, Universitas Oxford di Inggris, serta Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC). Hingga saat ini, belum ada vaksin preventif atau terapi khusus untuk infeksi strain Bundibugyo, yang merupakan spesies berbeda dalam keluarga Ebolavirus.
“Wabah Ebola di DRC saat ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, yang tidak memiliki vaksin atau pengobatan,” ujar Monica Gandhi, spesialis penyakit menular dari University of California, San Francisco. Selama ini, tenaga kesehatan hanya bisa memberikan perawatan suportif—memantau tekanan darah, perdarahan, dan mencegah gagal organ. Namun, dengan lebih dari 1.500 kasus terkonfirmasi dan angka kematian yang terus bertambah, kebutuhan akan terapi yang efektif menjadi mendesak.
Uji klinis PARTNERS akan mengevaluasi efektivitas MBP134, kombinasi dua antibodi monoklonal manusia yang diisolasi dari penyintas wabah Afrika Barat 2013-2016, serta remdesivir—antiviral yang dikenal luas untuk COVID-19. MBP134 menargetkan bagian virus yang umum pada beberapa strain Ebola, termasuk Zaire, Sudan, dan Bundibugyo. Studi pada primata non-manusia menunjukkan MBP134 mampu membalikkan gejala infeksi strain Sudan. Sementara itu, remdesivir telah terbukti efektif melawan beberapa strain Ebolavirus. Kedua obat akan diuji sendiri dan dalam kombinasi.
Keputusan memilih kedua terapi ini didasarkan pada bukti ilmiah dan pengalaman penanganan wabah sebelumnya, menurut WHO. Desain platform trial memungkinkan penambahan kandidat obat baru di masa depan jika dinilai cukup bukti oleh Kelompok Penasihat Teknis WHO. Namun, WHO menekankan bahwa uji coba tidak boleh terburu-buru demi memastikan keamanan dan efektivitas.
“Hasil uji klinis akan memakan waktu setidaknya beberapa bulan,” kata perwakilan WHO. Monica Gandhi optimistis bahwa partisipasi pasien akan tinggi. “Saya sangat berharap studi penting ini segera selesai, mungkin dalam waktu setahun,” ujarnya.
Bagi Indonesia, wabah Ebola di Afrika menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular emerging. Meski risiko penularan langsung ke Indonesia rendah, mobilitas global dan potensi mutasi virus menuntut kewaspadaan. Pengembangan terapi seperti PARTNERS juga membuka peluang bagi riset serupa di dalam negeri, terutama untuk penyakit yang belum ada obatnya.
Keberhasilan uji coba ini tidak hanya akan menyelamatkan nyawa di Afrika, tetapi juga memperkuat arsitektur kesehatan global dalam menghadapi ancaman filovirus di masa depan. Pertanyaan besarnya: akankah dunia belajar dari wabah ini untuk berinvestasi lebih dalam riset dan pengembangan obat sebelum krisis berikutnya tiba?



