Singapura Gelontorkan Rp9,4 Triliun untuk Riset Transportasi: Autonomi dan Digital Twin Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Singapura mengalokasikan S$800 juta (sekitar Rp9,4 triliun) untuk riset transportasi dalam lima tahun ke depan, dua kali lipat dari anggaran sebelumnya.
- Dua pertiga dana difokuskan pada pengembangan sistem otonom dan digital twin untuk meningkatkan konektivitas multimoda.
- Langkah ini bertujuan mempertahankan posisi Singapura sebagai hub global di tengah fragmentasi rantai pasok dan persaingan teknologi.

Singapura mengumumkan investasi sebesar S$800 juta (sekitar Rp9,4 triliun) untuk riset transportasi dalam lima tahun ke depan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya, sebagai upaya mempertahankan statusnya sebagai pusat logistik dan konektivitas global.
Anggaran tersebut akan dikelola oleh National Research Foundation melalui program Research, Innovation and Enterprise (RIE) 2030. Sekitar dua pertiga dana dialokasikan untuk dua bidang utama: sistem transportasi otonom dan digital twin untuk konektivitas. Sisanya akan mendukung riset spesifik sektor di bidang penerbangan, maritim, dan transportasi darat.
Menteri Perhubungan Aktif Jeffrey Siow, saat menyampaikan pidato di parlemen pada Selasa (7/7/2026), menekankan bahwa Singapura harus menjadi pemimpin pemikiran global di bidang transportasi. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan pada infrastruktur fisik semata sudah tidak lagi cukup. โRantai pasok semakin terfragmentasi dan terdistribusi. Jika Singapura hanya menjadi tempat yang dilalui arus, suatu hari arus itu akan melewati kita begitu saja,โ ujarnya.
Menurut Siow, konektivitas masa depan akan sangat bergantung pada teknologi. Pengirim barang dan pelancong akan memilih Singapura bukan karena teknologi proprietary, melainkan karena efisiensi, konektivitas, dan keandalan yang lebih tinggi dibandingkan alternatif lain.
Menteri Negara Perhubungan Baey Yam Keng menambahkan bahwa dana ini akan mendukung riset model operasi baru yang memanfaatkan kendaraan otonom, kapal otonom, dan robotika di pelabuhan, bandara, dan jaringan logistik. โDengan volume kargo yang tinggi dan lingkungan regulasi yang mendukung, Singapura dapat menjadi โlaboratorium hidupโ untuk menguji dan menerapkan solusi ini dalam skala besar. Setelah terbukti di sini, solusi tersebut dapat diadopsi secara internasional,โ kata Baey.
Dalam sektor penerbangan, riset akan difokuskan pada penggunaan AI untuk mengoptimalkan pergerakan pesawat, mengurangi waktu terbang dan emisi karbon, serta mengurangi dampak gangguan cuaca. AI dan otomatisasi juga akan diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan operasi di sisi udara, termasuk tugas-tugas berat seperti penanganan bagasi.
Untuk sektor maritim, penelitian akan berpusat pada operasi pelabuhan otonom dan layanan pelabuhan cerdas yang terintegrasi. Investasi akan diarahkan pada analitik efisiensi pelabuhan berbasis AI, manajemen lalu lintas kapal prediktif, dan koordinasi layanan pelabuhan yang lebih cerdas untuk mengurangi waktu putar kapal. Selain itu, pendanaan juga mendukung upaya dekarbonisasi, termasuk alat deteksi dan prediksi penyebaran kebocoran bahan bakar atau bahan kimia untuk mendukung penggunaan bahan bakar alternatif yang aman.
Di sektor transportasi darat, riset akan berfokus pada teknologi angkutan massal otonom generasi berikutnya dan depo kereta api otomatis. Ini mencakup pengujian potensi peningkatan kinerja sistem rel, penyederhanaan desain sistem, pengurangan kebutuhan perawatan, serta penggunaan AI dan sensor untuk perawatan prediktif di depo kereta api yang sangat otomatis.
Program RIE2030 merupakan kelanjutan dari RIE2025 yang mendanai program riset terpisah untuk penerbangan, maritim, dan mobilitas perkotaan. Pendanaan baru ini terbuka bagi institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset, dengan perusahaan dapat berpartisipasi melalui kolaborasi dengan institusi tersebut. Detail proses aplikasi akan diumumkan selama periode RIE2030.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini menjadi sinyal penting. Sebagai tetangga dan mitra dagang utama, Indonesia perlu mengantisipasi percepatan adopsi teknologi otonom dan digital twin di sektor transportasi dan logistik. Jika Singapura berhasil menjadi pusat uji coba global, Indonesia berpotensi menjadi pasar penerima teknologi tersebut, namun juga harus bersaing dalam menarik investasi dan talenta. Pertanyaannya, sejauh mana kesiapan Indonesia dalam merespons lompatan teknologi transportasi ini?



