Mitos atau Fakta: Kopi Putih Ipoh Lebih Berkafein? Ini Kata Riset
Baca dalam 60 detik
- Kopi putih Malaysia (Ipoh white coffee) kerap dianggap memiliki kafein lebih tinggi karena roasting lebih ringan, namun klaim itu tidak sepenuhnya tepat.
- Kandungan kafein kopi putih sebenarnya setara dengan kopi hitam biasa (kopi O) dari kedai yang sama, karena keduanya menggunakan biji robusta atau liberica yang sama.
- Perbedaan utama terletak pada jenis biji dan metode seduh, bukan pada proses 'white coffee'—kopi putih instan justru memiliki kafein lebih rendah karena banyak campuran gula dan krimer.

Kopi putih Ipoh, minuman legendaris Malaysia yang telah mendunia, sering diyakini memiliki kandungan kafein lebih tinggi dibandingkan kopi biasa. Keyakinan ini didasari oleh asumsi bahwa proses pemanggangan yang lebih ringan (light roast) mampu mempertahankan lebih banyak kafein. Namun, benarkah demikian? Sejumlah riset terbaru justru membantah mitos tersebut.
Secara ilmiah, kafein memang terdegradasi oleh panas selama proses roasting. Studi tahun 2025 dalam jurnal Processes menemukan bahwa sampel kopi light roast mengandung hingga tiga kali lipat lebih banyak kafein dibandingkan dark roast. Temuan serupa juga dikonfirmasi oleh penelitian di Scientific Reports pada 2024. Namun, masalahnya, kopi putih Ipoh bukanlah light roast sejati. Berbeda dengan white coffee ala Barat yang menggunakan biji sangat ringan tanpa susu, kopi putih Malaysia termasuk dalam kategori medium roast—lebih terang dari kopi O, tetapi tidak cukup ringan untuk memberikan keunggulan kafein yang signifikan.
Lantas, apa yang sebenarnya menentukan kadar kafein dalam secangkir kopi putih? Jawabannya ada pada jenis biji kopi. Kopi tradisional kedai (kopitiam) di Malaysia umumnya menggunakan biji robusta dan liberica, bukan arabica. Robusta mengandung sekitar dua kali lipat kafein arabica per berat, sementara liberica juga tak kalah tinggi. Sebuah studi oleh peneliti Universiti Malaysia Sarawak yang mengukur kandungan kafein tujuh produk kopi lokal menggunakan analisis spektroskopi laboratorium mengonfirmasi bahwa varietas arabica secara konsisten memiliki konsentrasi kafein terendah.
Fakta krusialnya: kopi O biasa dari kedai yang sama menggunakan biji robusta dan liberica yang persis sama. Proses pembuatan kopi putih hanya menambahkan susu kental manis dan menghilangkan gula serta gandum dalam roasting, tetapi tidak menambah satu miligram pun kafein ekstra. Jadi, ketika seseorang merasa kopi putih lebih 'ngena', sebenarnya yang dimaksud adalah kopi kedai pada umumnya—baik putih maupun hitam—memiliki kafein lebih tinggi dibandingkan kopi lain yang biasa mereka minum, seperti kopi instan atau espresso.
Perbandingan ini relevan bagi konsumen Indonesia, yang juga akrab dengan kopi putih instan dan kopi tubruk. Banyak yang mengira kopi putih instan lebih kuat, padahal kandungan kafeinnya justru lebih rendah. Sementara itu, kopi putih yang diseduh di kedai memang lebih kuat, tetapi bukan karena 'putih'-nya, melainkan karena biji robusta yang digunakan dan metode seduh yang lebih ekstraktif.
Menurut analis industri kopi, kesalahpahaman ini berakar pada persepsi konsumen yang menyamakan rasa lebih creamy dan aroma lebih ringan dengan kafein tinggi. Padahal, rasa creamy berasal dari susu kental manis, bukan dari kafein. Di Indonesia, fenomena serupa terjadi pada kopi susu kekinian yang kerap dianggap lebih 'bertenaga' meski kandungan kopinya minimal.
Ke depannya, konsumen perlu lebih jeli membaca label atau menanyakan jenis biji yang digunakan. Jika ingin kafein tinggi, pilihlah kopi robusta murni, baik putih maupun hitam, yang diseduh secara tradisional. Sedangkan kopi putih instan lebih cocok sebagai minuman peneman santai, bukan sebagai sumber energi. Pertanyaannya: apakah industri kopi akan memanfaatkan temuan ini untuk mengedukasi pasar, atau justru mempertahankan mitos demi daya tarik produk?



