Penelope Cruz Buka Suara soal Aneurisma Otak: Itu Alarm Palsu
Baca dalam 60 detik
- Aktris Penelope Cruz mengonfirmasi diagnosis aneurisma otak yang diterimanya saat syuting ternyata merupakan kesalahan medis.
- Ia menyoroti ketimpangan pendanaan riset kesehatan perempuan yang hanya mendapat setengah dari investasi yang layak.
- Pengalaman ini mendorong Cruz untuk lebih vokal tentang pentingnya deteksi dini dan akses layanan kesehatan setara.

Penelope Cruz, aktris peraih Oscar, menegaskan bahwa dirinya dalam kondisi sehat setelah sebelumnya dikabarkan mengalami aneurisma otak saat menjalani syuting film terbarunya, The Black Ball. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Porter, perempuan 52 tahun itu menyebut diagnosis awal tersebut hanyalah alarm palsu.
“Saya pernah mengalami banyak ketakutan seperti itu. Untungnya, saya baik-baik saja, itu alarm palsu,” ujar Cruz. Ia mengaku selalu menjaga kesehatan dengan tidak minum alkohol, tidak merokok, dan jarang berpesta. “Tanpa kesehatan, kita tidak punya apa-apa. Bicara soal kesetaraan sejati? Mengapa tidak mulai dari kesehatan?” tambahnya.
Kabar mengejutkan itu pertama kali diungkap Cruz dalam konferensi pers di Festival Film Cannes, Prancis. Saat itu, ia sedang bersiap untuk syuting adegan malam ketika dokter tiba-tiba memberi tahu bahwa ia mengalami aneurisma otak. “Saya pikir saya akan mati. Ini benar-benar surreal dalam hidup saya,” kenangnya. Namun, setelah pemeriksaan lanjutan, dokter menyatakan Cruz aman untuk melanjutkan syuting keesokan harinya.
Pengalaman ini mendorong Cruz untuk menyuarakan pentingnya diagnosis yang akurat dan pendanaan riset kesehatan yang lebih adil, terutama untuk penyakit yang spesifik menyerang perempuan. “Sungguh mengejutkan bahwa selama puluhan tahun kita terpaku pada informasi yang sama tentang cara kerja tubuh perempuan,” katanya. “Lihatlah pendanaan untuk investigasi penyakit yang hanya menyerang perempuan—kita bahkan tidak mendapatkan setengah dari investasi. Ini bentuk kontrol atau penekanan.”
Kritik Cruz terhadap ketimpangan riset kesehatan perempuan relevan dengan kondisi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa angka kematian akibat kanker serviks dan payudara masih tinggi, sebagian karena deteksi dini yang rendah dan minimnya riset berbasis gender. Para ahli menilai bahwa alokasi anggaran riset kesehatan perempuan di Indonesia masih jauh dari ideal, sehingga banyak penyakit yang bisa dicegah justru terlambat tertangani.
Film The Black Ball sendiri rencananya akan dirilis pada tahun 2025. Cruz mengaku berterima kasih atas dukungan kru film yang tetap profesional meski dalam situasi darurat. “Syuting tidak akan berhenti. Bagi saya, membicarakan hal-hal seperti ini sangat penting—berbagi informasi tentang bagaimana karakter bisa membawa Anda ke situasi tertentu, dan bagaimana kita bisa tetap maju meski menghadapi kesulitan,” pungkasnya.
Ke depan, publik menantikan apakah pengalaman Cruz ini akan mendorong perubahan nyata dalam kebijakan riset kesehatan perempuan, atau sekadar menjadi pengingat bahwa deteksi dini dan diagnosis yang tepat adalah hak setiap pasien, tanpa memandang gender.



