Hilirisasi Jadi Motor Baru Antam: Laba Melonjak 106%, Pabrik Baterai Segera Beroperasi
Baca dalam 60 detik
- Antam mencatat laba Rp7,92 triliun pada 2025, naik 106% dari tahun sebelumnya, didorong bisnis emas dan nikel.
- Pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, hasil kerja sama Antam dengan konsorsium global, mencapai progres 90% dan ditargetkan beroperasi akhir Juli 2026.
- Kebijakan hilirisasi yang digaungkan Danantara menjadi fondasi bagi Antam untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) menuai hasil manis dari strategi hilirisasi yang digencarkan pemerintah. Sepanjang tahun buku 2025, emiten pelat merah ini membukukan laba bersih Rp7,92 triliun, melesat 106 persen dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp3,85 triliun. Kinerja ini tidak lepas dari peran ganda Antam sebagai pemain utama di sektor emas dan nikel, dua komoditas yang menjadi tulang punggung transisi energi nasional.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menegaskan komitmen perusahaan dalam menerima penugasan khusus dari pemerintah untuk mempercepat hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV). Menurutnya, proyek-proyek terintegrasi yang dijalankan Antam tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memperkuat kemandirian industri dalam negeri. "Kami ingin posisi Indonesia dalam rantai pasok global semakin kokoh," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, sejak awal tahun ini telah menempatkan hilirisasi mineral sebagai pilar utama masa depan industri dan transisi energi Indonesia. Melalui Danantara, ia mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola ketat dan prinsip keberlanjutan. "Nilai strategis sumber daya kita harus tumbuh dan dinikmati di dalam negeri," kata Rosan.
Antam menggandeng PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan konsorsium HYD Investment Limited yang beranggotakan Zhejiang Huayou Cobalt, EVE Energy, serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. Kerja sama ini mencakup enam usaha patungan, mulai dari proyek hulu (pengolahan nikel) hingga hilir (produksi baterai). Fase pertama pabrik di Karawang telah mencapai 90 persen dan akan beroperasi pada akhir Juli 2026. Kapasitas produksi awal 15 GWh direncanakan ditingkatkan melalui ekspansi bertahap.
Kinerja keuangan Antam pada 2025 juga ditopang oleh pendapatan yang naik 22 persen menjadi Rp84,64 triliun, dari sebelumnya Rp69,19 triliun. Lonjakan laba ini mengonfirmasi bahwa hilirisasi bukan sekadar wacana, melainkan telah memberikan dampak nyata terhadap fundamental bisnis. Bagi investor, sinyal ini memperkuat prospek Antam sebagai pemain kunci dalam rantai pasok baterai global yang diperkirakan terus tumbuh seiring percepatan adopsi kendaraan listrik.
Ke depan, keberhasilan pabrik Karawang akan menjadi batu uji bagi ambisi Indonesia menjadi hub manufaktur baterai dunia. Pertanyaannya, mampukah Antam dan mitranya menjaga momentum di tengah fluktuasi harga nikel dan persaingan ketat dari negara lain seperti China?



