Rupiah Menguat ke Rp18.045, Bisakah Tembus Rp17.000?
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup menguat 0,14% ke Rp18.045 per dolar AS pada Jumat (10/7/2026), didorong pelemahan indeks dolar AS.
- Ekonom Bank BTN menilai rupiah bisa turun ke Rp17.600 jika tekanan global mereda, perang usai, dan harga minyak di bawah US$70.
- Pelaku pasar mencermati ketegangan AS-Iran dan harga minyak sebagai faktor penentu arah rupiah ke depan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil membalikkan tren pelemahan pada perdagangan akhir pekan ini, ditutup menguat tipis di level Rp18.045 per dolar AS. Penguatan ini memicu pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah rupiah mampu kembali ke kisaran psikologis Rp17.000 dalam waktu dekat?
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,14% pada Jumat (10/7/2026), setelah sehari sebelumnya berada di posisi terlemah dalam sebulan terakhir. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bergerak di rentang Rp18.045 hingga Rp18.075 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan koreksi indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,11% ke level 100,788 pada pukul 15.00 WIB.
Ekonom Bank BTN, Myrdal Gunarto, mengungkapkan bahwa untuk menembus level Rp17.000, diperlukan kombinasi kondisi global yang mendukung. "Kalau mau balik di bawah Rp18.000 syaratnya tekanan global mereda, perang beneran selesai, harga minyak turun di bawah 70 dolar per barel, dan pandangan investor global terhadap Indonesia kembali normal," ujarnya. Menurut proyeksi Myrdal, jika skenario itu terwujud, rupiah berpotensi menguat hingga Rp17.600 per dolar AS.
Pelemahan dolar AS terjadi untuk sesi kedua berturut-turut, dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun konflik Timur Tengah kembali memanas, pelaku pasar justru lebih fokus pada dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi global. Harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$70 per barel menjadi salah satu penghambat utama penguatan rupiah lebih lanjut.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, pergerakan rupiah menjadi perhatian utama karena berdampak langsung pada biaya impor, utang luar negeri, dan daya beli masyarakat. Jika rupiah mampu kembali ke level Rp17.000-an, hal itu akan meringankan beban perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS dan menekan inflasi impor. Namun, ketidakpastian geopolitik dan harga komoditas masih menjadi risiko yang membayangi.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran serta data inflasi AS yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Apakah rupiah mampu mempertahankan momentum penguatan atau justru kembali tertekan? Jawabannya tergantung pada seberapa cepat kondisi global kondusif terwujud.



