Jepang Uji Coba Bus Otonom Level 4 untuk Angkutan Umum Mulai 2027
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang membuka pendaftaran bagi operator dan produsen untuk mengikuti uji coba bus tanpa pengemudi yang direncanakan berjalan pada tahun fiskal 2027.
- Teknologi yang digunakan setara Level 4 otonomi, di mana kendaraan dapat beroperasi tanpa intervensi manusia dalam kondisi tertentu, namun masih memerlukan sistem pemantauan jarak jauh.
- Uji coba ini menjadi langkah maju dari pengujian sebelumnya yang hanya melibatkan kendaraan kecil atau dengan sopir di dalam, dan berpotensi mengubah wajah transportasi publik perkotaan.

Jepang bersiap menggelar uji coba bus umum tanpa pengemudi mulai tahun fiskal 2027, sebuah langkah ambisius yang diumumkan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri setempat. Inisiatif ini tidak hanya menandai percepatan adopsi kendaraan otonom di Negeri Sakura, tetapi juga menjadi barometer bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah merintis sistem transportasi pintar.
Dalam skema yang dirilis pekan ini, pemerintah Jepang akan memperkenalkan sistem pemantauan jarak jauh yang mengotomatisasi fungsi mengemudi sekaligus pelayanan penumpang. Tingkat otonomi yang ditargetkan masuk dalam kategori Level 4, yakni kendaraan mampu beroperasi tanpa campur tangan manusia dalam kondisi tertentu. Level ini berada satu tingkat di bawah otonomi penuh (Level 5) yang memungkinkan kendaraan berjalan tanpa batasan apa pun.
Pendaftaran peserta uji coba dibuka hingga 29 Juli mendatang. Operator bus, produsen kendaraan komersial, serta pengembang sistem pemantauan jarak jauh dipersilakan mengajukan partisipasi. Menurut kementerian, pengujian Level 4 sebelumnya pernah dilakukan di Jepang, namun terbatas pada kendaraan kecil atau dengan sopir tetap berada di dalam kabin. Untuk bus ukuran penuh, tantangan teknisnya lebih kompleks: sistem harus mampu membuka dan menutup pintu secara otomatis, menampilkan informasi tujuan, serta merespons kondisi darurat tanpa kehadiran awak.
Langkah Jepang ini menjadi perhatian bagi Indonesia yang tengah mengembangkan transportasi massal berbasis teknologi. Beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung telah menjajaki bus listrik dan sistem pembayaran digital, namun adopsi kendaraan otonom masih jauh dari realisasi. Menurut pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung, tantangan utama bukan hanya pada kesiapan teknologi, melainkan juga regulasi, infrastruktur jalan, dan penerimaan masyarakat. โJepang memiliki keunggulan dalam disiplin berlalu lintas dan infrastruktur yang mendukung. Indonesia perlu membangun fondasi itu terlebih dahulu,โ ujarnya.
Di sisi lain, produsen kendaraan komersial Jepang seperti Hino dan Isuzu diprediksi akan menjadi pemain kunci dalam uji coba ini. Mereka telah lama mengembangkan teknologi bantuan pengemudi dan kini berlomba menuju otonomi penuh. Jika uji coba berhasil, Jepang berencana mengintegrasikan bus otonom ke dalam sistem transportasi publik perkotaan secara bertahap, mengurangi ketergantungan pada sopir di tengah menurunnya jumlah tenaga kerja akibat populasi menua.
Pertanyaan selanjutnya adalah: mampukah teknologi ini beradaptasi dengan kondisi jalan yang padat dan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat atau salju? Jepang akan menjawabnya dalam uji coba yang dimulai dua tahun lagi. Bagi Indonesia, perkembangan ini layak dicermati sebagai referensi ketika negeri ini mulai merancang peta jalan kendaraan otonom di masa depan.



