Mick Jagger Coba AI untuk Cari Judul Album, Hasilnya Sampah
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Rolling Stones, Mick Jagger, mengaku sempat menggunakan AI untuk mencari judul album Hackney Diamonds, namun saran yang diberikan dinilainya tidak berguna.
- Meski gagal, Jagger mengaku proses itu justru meningkatkan kepercayaan dirinya terhadap ide-ide sendiri, karena ia merasa judul buatannya jauh lebih baik.
- Di sisi lain, Keith Richards menilai ekspresi musikal Jagger lebih maksimal saat bermain harmonika dibanding vokal, seperti terlihat di album terbaru Foreign Tongues.

Mick Jagger, vokalis legendaris Rolling Stones yang kini berusia 82 tahun, mengaku pernah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantunya menemukan judul album. Namun, alih-alih mendapat solusi, ia malah disuguhi sederet saran yang ia sebut sebagai “sampah”. Pengalaman ini justru membuatnya semakin yakin dengan kemampuan sendiri.
Dalam wawancara dengan Sunday Times Culture, Jagger menceritakan bahwa ia menggunakan AI saat proses kreatif album Hackney Diamonds yang dirilis pada 2023. Saat itu, para personel Rolling Stones belum sepakat dengan judul yang diajukan. Jagger kemudian memasukkan 12 judul pilihannya ke dalam sistem AI dan meminta tambahan ide. “AI mengembalikan saran-saran yang sangat buruk, sama sekali tidak membantu,” ujarnya.
Meski hasilnya mengecewakan, Jagger mengakui bahwa interaksi dengan AI justru memberinya dorongan psikologis. “Itu bisa membuatmu tersadar, ‘Oke, itu sampah,’ atau ‘Judulku jauh lebih bagus dari punyamu.’ Ini memberi kepercayaan diri,” katanya. Ia menegaskan bahwa AI tidak digunakan untuk menulis lagu, melainkan hanya untuk eksperimen kecil dalam pencarian judul.
Sementara itu, rekan satu band Jagger, Keith Richards, memberikan pandangan menarik tentang kemampuan bermusik sang vokalis. Menurut Richards, Jagger justru lebih mampu mengekspresikan dirinya saat memainkan harmonika ketimbang bernyanyi. “Mick mengekspresikan dirinya lewat harmonika dengan cara yang paling penuh, bahkan lebih baik daripada sebagai vokalis,” ujar Richards. Alat musik tiup itu digunakan secara menonjol dalam lagu cover You Know I'm No Good milik Amy Winehouse di album terbaru mereka, Foreign Tongues.
Kisah lain datang dari gitaris Ronnie Wood yang mengenang persahabatannya dengan Amy Winehouse. Wood masih merasa sedih dengan kepergian penyanyi yang meninggal akibat keracunan alkohol pada 2011 di usia 27 tahun. Ia mengingat bagaimana Winehouse sering kebingungan sebelum naik panggung. “Dia akan bertanya, ‘Oh Ronnie, apa yang harus kulakukan?’ Saya jawab, ‘Semua orang tahu kau punya vodka di botol air. Tenangkan diri dan naik panggung,’” kenang Wood. Ia menyayangkan Winehouse tidak sempat menjalani karier yang panjang, menyamakan kepergiannya dengan legenda jazz Billie Holiday.
Richards juga mengungkapkan penyesalan karena tidak pernah benar-benar mengenal Winehouse, meskipun mereka pernah tampil bersama di Isle of Wight Festival 2007. “Saya selalu berpikir, ‘Pasti akan bertemu lagi nanti.’ Tapi ternyata tidak. Syukurlah ada rekaman. Saya sangat senang dan bangga bisa bermain dengannya setidaknya sekali,” kata Richards. Pengalaman ini menjadi pengingat betapa berharganya kolaborasi lintas generasi yang sayangnya tak sempat berlanjut.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana AI akan digunakan dalam industri musik, terutama oleh musisi senior seperti Rolling Stones. Jagger sendiri masih skeptis, namun eksperimen kecilnya menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat yang memicu kreativitas—meski hasilnya kadang tak terduga. Akankah AI suatu hari benar-benar membantu menciptakan mahakarya, atau hanya akan menjadi teman diskusi yang kadang menyebalkan?



