Gempa Sigi, Sesar Sausu: Patahan Aktif yang Terlupakan di Sulawesi Tengah
Baca dalam 60 detik
- Gempa M6,7 di Sigi dan Palu (Juni 2026) dipicu Sesar Sausu, patahan aktif yang minim riset dan jarang dipublikasikan.
- Sesar Sausu memiliki segmen 31x18 km, terkait dengan Sesar Tokoraru, dan telah memicu gempa lokal berulang dalam sembilan tahun terakhir.
- Peneliti mendesak pembentukan pusat studi gempa di Sulawesi Tengah karena kesenjangan pengetahuan dan kesiapsiagaan masih rendah.

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi dan Kota Palu pada pertengahan Juni lalu membuka fakta baru: ancaman seismik di Sulawesi Tengah tidak hanya datang dari Sesar Palu-Koro yang terkenal, melainkan juga dari Sesar Sausu, patahan aktif yang hingga kini masih minim kajian ilmiah.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dangkal dengan kedalaman 16 kilometer itu berpusat di darat, tepatnya di Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong. Mekanisme pergerakannya adalah sesar turun (normal fault), berbeda dari pola geser yang lazim dikaitkan dengan Sesar Palu-Koro. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyatakan bahwa episenter gempa berada di koordinat 1,03ยฐ Lintang Selatan dan 120,24ยฐ Bujur Timur.
Guncangan terkuat mencapai skala VII MMI di Kecamatan Palolo, Sigi, sementara wilayah Torue dan Parigi Selatan merasakan intensitas VIโVII MMI. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 18 Juni mencatat 2.012 keluarga atau 6.458 jiwa terdampak, dengan tiga korban meninggal dunia di Sigi, 15 luka berat, dan 64 luka ringan.
Sesar Sausu merupakan salah satu jalur patahan aktif di daratan Parigi Moutong. Secara geologis, sesar ini tergolong sesar geser (strike-slip fault), namun dalam kondisi tertentu dapat menghasilkan komponen gerakan vertikal. BMKG mencatat bahwa segmen aktif Sesar Sausu berukuran sekitar 31ร18 kilometer dan berada pada zona gempa dangkal. Aktivitasnya juga terkait dengan Sesar Tokoraru, yang bersama-sama beberapa kali memicu gempa lokal di Parigi Moutong dan Poso. Dalam sembilan tahun terakhir, tercatat gempa dangkal dengan magnitudo 4,2 hingga 6,0 yang bersumber dari kedua sesar tersebut.
Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti gempa dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa setiap sesar di Sulawesi Tengah memiliki tingkat pergerakan berbeda namun saling berkaitan membentuk sistem tektonik kompleks. Ia menduga Sesar Sausu memiliki keterkaitan erat dengan sesar-sesar lain di sekitarnya. โDengan jarak yang sedemikian rapat, ada kemungkinan sesar-sesar pada kedalaman sekitar 25-30 kilometer di bawah permukaan bumi menyatu dalam satu bidang yang sama,โ ujarnya dalam diskusi Skala Indonesia.
Minimnya kajian terhadap Sesar Sausu menjadi perhatian serius para peneliti. Neni Muhidin, peneliti dan pendiri NEMU Buku, membenarkan bahwa sesar ini jarang menjadi objek penelitian mendalam. โUpaya-upaya pengurangan risiko seharusnya dilakukan ketika sesar ini belum menunjukkan aktivitas yang memicu bencana. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah kerap baru merespons setelah terjadi peristiwa,โ katanya. Ia juga menyayangkan merebaknya misinformasi yang mengaitkan gempa dengan ritual Morra Keke, tradisi permohonan hujan di Sigi sehari sebelum gempa. Anggapan tersebut tidak berdasar ilmiah dan berpotensi mengalihkan perhatian dari langkah mitigasi yang konkret.
Trinirmalaningrum, Direktur Yayasan Skala Indonesia, menambahkan bahwa riset pasca-gempa 2018 menunjukkan masih rendahnya literasi masyarakat mengenai gempa dan tsunami. Pengetahuan tentang langkah penyelamatan diri belum merata, sementara sarana evakuasi sangat terbatas. Ironisnya, rancangan kesiapsiagaan pun belum dipahami sepenuhnya oleh para pemangku kepentingan. Untuk itu, Mudrik mendorong pendirian Nalodo Research Centre sebagai pusat studi gempa bumi yang mengintegrasikan geofisika, teknik sipil, geodesi, geologi, sejarah, hingga elektronika. โSulawesi harus membangun fondasi pembangunan yang bertumpu pada pengetahuan dan inovasi kebencanaan,โ tegasnya.
Ke depan, apakah pemerintah daerah dan pusat akan segera menggenjot riset Sesar Sausu dan sesar-sesar lain yang selama ini terabaikan? Ataukah kita akan kembali menunggu gempa berikutnya untuk bertindak?



