Jaksa Agung ST Burhanuddin: Saya Tetap Sanitiar, Murid SMP Talaga yang Dulu
Baca dalam 60 detik
- ST Burhanuddin hadir dalam reuni akbar SMP Talaga 2026 di Majalengka, dihadiri 1.800 alumni lintas angkatan.
- Dalam sambutannya, ia menegaskan identitasnya sebagai Sanitiar Burhanuddin, bukan semata jabatan Jaksa Agung, seraya mengajak alumni tetap menjalin persaudaraan.
- Pernyataan ini menekankan pentingnya kerendahan hati dan nilai-nilai dasar yang dipelajari di bangku sekolah di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.

Jaksa Agung ST Burhanuddin memanfaatkan momen reuni akbar SMP Negeri Talaga di Majalengka, Minggu (5/7), untuk meruntuhkan sekat jabatan dan mengingatkan bahwa di hadapan guru dan teman-teman lamanya, ia hanyalah Sanitiar Burhanuddin—seorang murid yang puluhan tahun lalu berlari di koridor sekolah itu.
Dalam sambutannya di hadapan sekitar 1.800 alumni dari angkatan 1967 hingga 2000, Burhanuddin menekankan bahwa meskipun para alumnus kini tersebar di berbagai profesi—dari jaksa, pengusaha, hingga pegawai negeri—persaudaraan yang terbentuk di bangku sekolah tidak boleh putus oleh kekuasaan atau jarak waktu. "Saya hanyalah Sanitiar Burhanuddin, seorang murid yang puluhan tahun lalu pernah berlari di koridor sekolah ini, belajar bersama, bercanda bersama, dan bermimpi tentang masa depan," ucapnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik jabatan tinggi negara, Burhanuddin tetap mengakui akar pendidikannya. Ia mengaku banyak belajar tentang disiplin, kejujuran, dan keberanian menegakkan kebenaran selama bersekolah di SMP Talaga. Nilai-nilai itulah yang kemudian ia bawa dalam kariernya sebagai penegak hukum. "Silakan menyapa dan mengajak saya berbincang. Karena saya tetaplah Sanitiar Burhanuddin, murid SMP Negeri Talaga yang dahulu tumbuh dan dididik di sekolah ini," tambahnya.
Reuni akbar ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan juga menjadi simbol bahwa jabatan publik tidak boleh menghilangkan kerendahan hati. Dalam konteks Indonesia, di mana figur publik sering kali dikritik karena arogansi kekuasaan, sikap Burhanuddin justru memberikan contoh sebaliknya. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisa tetap membumi dan menghargai masa lalunya. Hal ini relevan dengan pesan antikorupsi yang kerap ia gaungkan: bahwa integritas dibangun sejak dari bangku sekolah.
Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.30 WIB itu dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pensiunan guru hingga pejabat daerah. Suasana hangat terlihat saat Burhanuddin berbaur dengan para senior dan juniornya. Beberapa alumni mengaku terharu melihat Jaksa Agung bersedia duduk di bangku yang sama dan bercengkerama tanpa jarak. "Beliau tetap rendah hati, tidak berubah meski sudah menjadi orang nomor satu di Kejaksaan," ujar salah satu panitia.
Ke depan, momen seperti ini diharapkan dapat memperkuat ikatan alumni dan menjadi ajang transfer nilai-nilai positif antargenerasi. Pertanyaannya, apakah para pemimpin lain juga akan mengikuti jejak Burhanuddin untuk tetap merendah di hadapan publik? Ataukah kekuasaan tetap akan mengubah cara pandang seseorang terhadap asal-usulnya?



