Polisi Bekuk Satu 'Rayap Besi' di Kampung Melayu, Buru Komplotan Lain
Baca dalam 60 detik
- Seorang pelaku pencurian pagar besi di taman bawah flyover Kampung Melayu ditangkap, sementara polisi masih memburu setidaknya lima pelaku lain.
- Komplotan ini beraksi terang-terangan dengan modus berpura-pura sebagai petugas dinas, menggunakan linggis dan palu, serta mengangkut besi curian dengan bajaj.
- Pencurian yang terjadi dalam empat hari ini menyisakan pertanyaan tentang lemahnya pengawasan aset publik di Jakarta Timur.

Polisi akhirnya menangkap satu orang yang diduga sebagai bagian dari komplotan pencuri pagar besi di taman bawah kolong flyover Kampung Melayu, Jakarta Timur. Kapolsek Jatinegara Kompol Samsono mengonfirmasi penangkapan itu pada Rabu (8/7), namun enggan merinci jumlah pasti pelaku yang masih diburu.
"Yang lainnya masih dalam pencarian," ujar Samsono singkat. Penangkapan ini bermula dari laporan warga yang menyadari pagar besi di lokasi raib dalam tempo empat hari. Padahal, seminggu sebelumnya pagar masih utuh. Ana (38), warga sekitar, menuturkan bahwa para pelaku beraksi secara terbuka pada waktu-waktu tertentu, yakni menjelang subuh atau sore hari, tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Mereka kerjanya santai saja, makanya orang-orang yang lihat tidak curiga, dikira petugas dari dinas. Jadi, tidak ada yang menegur atau melarang," kata Ana kepada Antara, Selasa (7/7). Ia menambahkan, komplotan berjumlah sekitar lima orang itu membawa linggis dan palu untuk membongkar pagar, lalu mengangkutnya menggunakan bajaj yang sudah siaga di lokasi.
Kasus ini menyoroti kerentanan aset publik di Jakarta. Pagar besi yang seharusnya menjadi fasilitas taman justru rawan digondol karena minim pengawasan. Modus pelaku yang berpura-pura sebagai petugas dinas menunjukkan celah keamanan yang perlu segera dibenahi. Di sisi lain, aksi pencurian besi bekas seperti ini kerap terkait dengan permintaan pasar loak atau pengepul besi tua yang tidak terlalu selektif.
Polisi belum membeberkan identitas tersangka atau motif pasti di balik pencurian ini. Namun, dari keterangan warga, pelaku bukan orang setempat. "Yang mengambil bukan orang sini, karena kami tidak mengenal mereka," ujar Ana. Hal ini mengindikasikan adanya jaringan terorganisir yang bergerak cepat dan mengetahui titik-titik rawan.
Ke depan, perlu ada peningkatan patroli dan pemasangan kamera pengawas di area publik seperti taman bawah flyover. Pertanyaan yang mengemuka: apakah penangkapan satu orang ini cukup untuk memutus rantai pencurian aset publik, atau justru akan muncul modus baru yang lebih rapi?



