Krisis Air Bersih di Tangerang: Sumur Kering, Sungai Tercemar, Warga Bergantung pada Bantuan Relawan
Baca dalam 60 detik
- Warga Desa Cirarab, Tangerang, telah sebulan kesulitan air bersih akibat sumur kering dan pencemaran Kali Cimanceri.
- Bantuan air bersih baru datang dari relawan, sementara pemerintah daerah belum memberikan respons rutin.
- Kondisi ini memicu kekhawatiran akan krisis air berkepanjangan jika penanganan pencemaran sungai tidak segera dilakukan.

Warga Desa Cirarab, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, telah memasuki bulan pertama tanpa akses air bersih yang layak. Kemarau panjang membuat sumur-sumur warga mengering, sementara sumber air alternatif, Kali Cimanceri, kini tercemar limbah dan tidak lagi aman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah sumur milik warga dilaporkan tidak lagi mengeluarkan air akibat kekeringan yang melanda wilayah tersebut. Kondisi itu memaksa warga mengandalkan bantuan air bersih yang disalurkan menggunakan mobil tangki oleh Relawan Pemuda Legok. Air bersih dari mobil tangki kemudian didistribusikan ke rumah-rumah warga melalui tempat penampungan yang telah disiapkan.
Warga mengaku sudah sekitar satu bulan mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Selama ini, mereka memanfaatkan air Kali Cimanceri untuk mandi dan mencuci, namun kini air sungai tersebut berwarna keruh, berbau, dan diduga tercemar limbah sehingga tidak lagi dapat digunakan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga terpaksa membeli air galon. Namun, tingginya biaya membuat banyak warga keberatan karena tidak sebanding dengan kondisi ekonomi mereka.
Salah seorang warga, Nining, mengatakan bantuan air bersih sangat dibutuhkan karena masyarakat sudah tidak memiliki sumber air yang layak digunakan. "Sudah sebulan pak, biasanya di kali, cuma gitu kalinya udah sedikit airnya dan rada bau, kalau minum ya beli air galon," ujar Nining, Rabu (8/7). Senada dengan itu, warga lain, Yadi, mengaku bantuan air bersih dari relawan sangat membantu di tengah krisis air yang telah berlangsung selama sebulan terakhir. "Dari kali atau kadang ke rumah yang sudah kena gusur masih ada sumber air, kalau buat minum ya beli air galon. Belum ada bantuan dari pemerintah baru tadi dari relawan, saya senang sekali," ungkap Yadi.
Krisis air di Cirarab mencerminkan kerentanan daerah penyangga Jakarta terhadap perubahan iklim dan pencemaran sungai. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dari rata-rata akibat fenomena El Niรฑo. Sementara itu, pencemaran Kali Cimanceri diduga berasal dari limbah domestik dan industri di hulu sungai. Warga berharap pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan air bersih secara rutin serta mengambil langkah penanganan terhadap kondisi Kali Cimanceri agar kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Ke depan, pertanyaan mendesak adalah apakah pemerintah Kabupaten Tangerang akan menyediakan pasokan air bersih reguler dan memulihkan kualitas Kali Cimanceri, atau krisis ini akan berulang setiap musim kemarau tanpa solusi jangka panjang.



