Witsel Jadi Jembatan Generasi, Belgia Siap Ladeni Amerika Serikat
Baca dalam 60 detik
- Axel Witsel, yang belum tampil di Piala Dunia 2026, kini berperan sebagai mentor bagi pemain muda Belgia.
- Pelatih Rudi Garcia kerap meminta masukan dari Witsel dan senior lainnya untuk strategi tim.
- Belgia akan menghadapi AS yang dianggap jauh lebih kuat dibanding saat bertemu di Piala Dunia 2014.

Axel Witsel, gelandang veteran Belgia yang belum sekalipun turun ke lapangan dalam empat pertandingan pertama Piala Dunia 2026, justru menjelma menjadi sosok kunci di balik layar. Ia bukan lagi sekadar pemain, melainkan jembatan antara generasi emas yang mulai memudar dan talenta muda yang tengah bersinar.
Peran baru Witsel terlihat jelas saat Belgia tertinggal dari Senegal di babak 32 besar. Pelatih Rudi Garcia menghampirinya dan bertukar pikiran. Witsel menyarankan agar tim lebih agresif menekan lawan di area tinggi. Saran itu terbukti ampuh: Belgia membalikkan keadaan dan menang 3-2. โDia hanya meminta pendapat saya,โ ujar Witsel seusai laga.
Witsel menegaskan bahwa dirinya bukan asisten pelatih. Namun, Garcia memang rutin meminta masukan dari para pemain senior seperti Romelu Lukaku, Kevin De Bruyne, Thibaut Courtois, dan Thomas Meunier. โKami sering berbicara di hotel,โ kata Witsel. Ia juga secara khusus membimbing pemain muda, seperti Diego Moreira yang sempat frustrasi karena minim menit bermain. โSaya bilang padanya untuk bersabar. Hasilnya, ia masuk dan mengubah dinamika pertandingan,โ cerita Witsel.
Menjelang duel melawan Amerika Serikat, Witsel mengingat pertemuan 12 tahun lalu. โPertandingan itu gila! Saya benar-benar kelelahan di akhir laga,โ kenangnya. Namun, ia menilai AS saat ini jauh lebih baik, baik secara teknis maupun intensitas permainan, terutama dengan gaya pressing tinggi yang diterapkan pelatih mereka. โMereka tim yang jauh lebih baik daripada tahun 2014,โ tegasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Piala Dunia 2026 menjadi ajang pembuktian bahwa regenerasi pemain bukan sekadar soal usia, melainkan juga transfer pengetahuan. Model peran Witsel sebagai mentor bisa menjadi inspirasi bagi timnas Indonesia yang tengah membangun skuat muda. Keberadaan pemain senior yang mampu membimbing juniornya menjadi aset tak ternilai, terutama di turnamen sebesar Piala Dunia.
Witsel sendiri berharap bisa segera mendapatkan menit bermain. โSaya tenang dan santai. Saya hanya menunggu momen saya,โ ujarnya. Dengan peran ganda sebagai pemain cadangan sekaligus mentor, ia siap memberikan kontribusi maksimal bagi Belgia. Pertanyaan besarnya: mampukah Belgia mengulangi sukses 2014, atau justru AS yang akan membalas kekalahan mereka?



