Dominasi Premier League di Piala Dunia 2026: Uang Bicara, Gol Mengalir
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 154 pemain Premier League tampil di Piala Dunia 2026, terbanyak dari liga mana pun, dengan total 67 gol—hampir dua kali lipat La Liga.
- Liga Inggris mendominasi assist dan clean sheet, berkat investasi besar pada pemain seperti Havertz, Sarr, dan Gakpo yang menjadi mesin gol di luar bintang elite.
- Kekayaan Premier League menciptakan ketimpangan kompetitif global, mengubah Piala Dunia menjadi panggung dominasi finansial Inggris.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko belum usai, tetapi satu hal sudah pasti: Premier League adalah kekuatan dominan di balik setiap gol, assist, dan penyelamatan. Dengan 154 pemain yang mengakhiri musim 2025-26 di klub Inggris dan tampil di turnamen ini, liga paling kaya di dunia itu tidak hanya mengirimkan jumlah pemain terbanyak, tetapi juga mencetak 67 gol—hampir dua kali lipat dari La Liga yang berada di posisi kedua.
Dominasi ini bukan sekadar angka. Premier League menyumbang lebih dari 500 penampilan dan hampir 40.000 menit bermain di Piala Dunia sejauh ini. Ketika babak perempat final dimulai, kontribusi pemain-pemain seperti Kai Havertz (Jerman), Ismaila Sarr (Senegal), dan Cody Gakpo (Belanda) menjadi bukti bahwa kedalaman skuad klub-klub Inggris—dari Arsenal hingga Sunderland—mampu menghasilkan pencetak gol kelas dunia. Enam pemain yang disebutkan, misalnya, memiliki nilai transfer gabungan sekitar £260 juta atau rata-rata £45 juta per pemain.
Ketimpangan ini semakin terlihat ketika membandingkan dengan liga lain. La Liga memang memiliki Jude Bellingham, Vinicius Jr., dan Mikel Oyarzabal yang masing-masing mencetak empat gol, tetapi hanya tiga pemain lain yang mencetak lebih dari satu gol. Bundesliga hanya memiliki empat pemain dengan lebih dari satu gol, sementara Serie A terpukul berat karena Italia gagal lolos untuk ketiga kalinya berturut-turut. Premier League, sebaliknya, memiliki 17 pemain yang mencetak dua gol atau lebih.
Di sektor assist, dominasi Premier League juga tak terbantahkan. Newcastle United's Bruno Guimaraes menciptakan empat gol meskipun Brasil tersingkir, hanya kalah dari Michael Olise (Bayern Munich) yang memiliki lima assist. Arsenal's Bukayo Saka dan Martin Odegaard, serta Liverpool's Florian Wirtz dan Alexander Isak, masing-masing mencatat tiga assist. Nilai transfer keempat pemain terakhir mencapai £310 juta, menunjukkan betapa mahalnya harga kreativitas di level tertinggi.
Di bawah mistar, Premier League juga unggul. Jordan Pickford (Everton), Emiliano Martinez (Aston Villa), Alisson (Liverpool), dan Bart Verbruggen (Belanda) menjadi kiper utama yang mencatatkan clean sheet. Total clean sheet Premier League sama dengan Liga MX—sebuah kejutan—berkat performa gemilang kiper Meksiko Raul Rangel dan Camilo Vargas (Kolombia). Namun, La Liga hanya tertinggal satu clean sheet, semuanya milik Unai Simon (Athletic Club) yang belum kebobolan sama sekali.
Bagi Indonesia, dominasi Premier League ini memiliki implikasi langsung. Liga Inggris adalah salah satu yang paling banyak ditonton di Tanah Air, dan performa pemain seperti Wissa (DR Congo) atau Brobbey (Belanda) menunjukkan bahwa talenta dari berbagai negara bisa bersinar di klub-klub Inggris. Namun, ketimpangan finansial juga berarti semakin sulit bagi liga-liga Asia, termasuk Indonesia, untuk bersaing merebut bakat lokal. Pemain Indonesia yang ingin menembus Piala Dunia mungkin harus mempertimbangkan Premier League sebagai tujuan, meski persaingan semakin ketat.
Pertanyaan besarnya: akankah dominasi ini terus berlanjut di edisi-edisi mendatang? Dengan semakin besarnya investasi klub-klub Inggris, terutama dari pemilik asing, Premier League tampaknya akan tetap menjadi pemasok utama pemain di Piala Dunia. Namun, jika liga-liga lain seperti La Liga atau Bundesliga mulai meniru model finansial Inggris, keseimbangan mungkin bisa berubah. Satu hal yang pasti: uang telah menjadi pemain kunci di panggung sepak bola global, dan Premier League adalah pemiliknya.



