Konflik Regional Lumpuhkan Pasar Suku Cadang Mobil Afghanistan
Baca dalam 60 detik
- Pasar suku cadang mobil di Spin Boldak, Afghanistan, terhenti akibat penutupan perbatasan dengan Pakistan dan konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
- Biaya pengiriman kontainer melonjak dari 2.000 dolar AS menjadi 8.000 dolar AS, sementara ribuan pekerja seperti perakit mobil dan operator derek kehilangan mata pencaharian.
- Afghanistan, yang sangat rentan terhadap guncangan eksternal, menghadapi kesenjangan impor-ekspor mencapai 70% dari PDB, dan prospek pemulihan bergantung pada stabilitas kawasan.

Pasar suku cadang mobil di Spin Boldak, Provinsi Kandahar, Afghanistan selatan, yang dulu menjadi pusat perdagangan kendaraan dari Jepang dan Dubai, kini lumpuh total akibat konflik berkepanjangan di perbatasan Pakistan dan eskalasi perang di Timur Tengah. Aktivitas bongkar muat kontainer yang biasanya ramai kini sepi, meninggalkan tumpukan mobil jadi yang tak laku dan ribuan pekerja yang menganggur.
Rantai pasok mulai terganggu pada Oktober lalu ketika bentrokan bersenjata di perbatasan Afghanistan-Pakistan memaksa penutupan hampir total jalur darat yang selama ini menjadi pintu masuk utama suku cadang. Para pedagang sempat mengalihkan rute melalui Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, dan kemudian melalui Uni Emirat Arab (UEA), meski biaya dan waktu tempuh membengkak. Namun, ketika konflik di Timur Tengah pecah pada Februari, gangguan pada Selat Hormuzโjalur vital perdagangan globalโmenghantam langsung sektor ini.
Abdul Baqi Bina, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Investasi Kandahar, mengungkapkan bahwa konflik di Timur Tengah menimbulkan masalah yang sangat berat bagi Afghanistan. Sejak itu, biaya pengiriman setiap kontainer melonjak dari sekitar 2.000 dolar AS menjadi 8.000 dolar AS, menurut Asadullah, seorang importir yang enggan menyebut nama lengkapnya. Ia mengaku memiliki lebih dari 30 kontainer yang tertahan di Jepang dan UEA, terutama akibat kemacetan di Pelabuhan Jebel Ali, Dubai, yang menjadi hub logistik utama kawasan.
Masoud, importir lain dari Jepang, menyebut usahanya benar-benar mandek sejak perang di Iran dimulai. "Kami biasa mengimpor puluhan, bahkan ratusan kontainer setiap bulan, sekarang nol," katanya. Beberapa kontainernya bahkan harus dikirim kembali ke Jepang karena biaya penyimpanan di UAE terus membengkak. "Tidak ada pilihan lain. Saya tidak melihat jalan alternatif; ini kerugian total," ujarnya pasrah.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pedagang besar. Ribuan pekerja di pasar Spin Boldak, seperti operator derek Mohammad Naeem (21 tahun), terpaksa mencari pekerjaan lain. "Saya akan meninggalkan pekerjaan ini dan mulai melakukan hal lain jika situasi tidak membaik," katanya. Di bengkel-bengkel gelap yang biasanya sibuk merakit mobil, para pekerja kini hanya duduk menganggur. Samiullah, pemilik bengkel berusia 30 tahun, mengaku dulu bisa membuat lima hingga tujuh mobil per minggu, tetapi kini berhenti total karena tidak ada pasokan suku cadang. Ia tetap harus membayar gaji karyawan meski tak ada pemasukan.
Di ruang pamer mobil, Noor Ali dikelilingi belasan kendaraan warna-warni hasil rakitan dari suku cadang Jepang. "Karena hanya sedikit kontainer yang datang ke Spin Boldak, pelanggan berkurang drastis," katanya, mengaku sudah sebulan tidak menjual satu unit pun. Ia berharap ada kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Bank Dunia dalam laporan Mei lalu menggambarkan Afghanistan sebagai negara yang sangat rentan terhadap guncangan eksternal, dengan kesenjangan impor-ekspor yang melebar hingga 70% dari PDB pada tahun fiskal 2025. Tanpa stabilitas di perbatasan dan jalur laut internasional, pemulihan sektor perdagangan Afghanistan tampaknya masih jauh panggang dari api. Pertanyaannya, mampukah para pedagang dan pekerja Spin Boldak bertahan hingga situasi kembali normal?



