Trump Nyatakan Perjanjian Damai dengan Iran 'Berakhir', Harga Minyak Langsung Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman gencatan senjata dengan Iran sudah tidak berlaku dan enggan berunding lebih lanjut.
- AS melancarkan serangan militer baru dan mencabut izin penjualan minyak Iran setelah tiga kapal tanker diserang di Selat Hormuz.
- Kenaikan harga minyak mentah dunia lebih dari 5 persen mengancam stabilitas harga energi domestik Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir, dan ia tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan perundingan dengan Teheran. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu (8/7), dan langsung memicu lonjakan harga minyak dunia lebih dari lima persen.
Nota kesepahaman yang ditandatangani Washington dan Teheran melalui mediasi Pakistan itu sejatinya memberikan jeda 60 hari untuk merundingkan kesepakatan permanen. Namun, perundingan tidak langsung di Qatar pekan lalu berakhir tanpa kemajuan berarti. Trump menegaskan, "Bagi saya, ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka." Ia bahkan menyebut pihak Iran sebagai "sampah" dan "orang sakit yang dipimpin oleh orang sakit".
Keputusan Trump muncul setelah AS melancarkan serangan militer baru ke Iran dan mencabut izin yang memungkinkan Iran menjual minyak bumi. Langkah ini dipicu oleh serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah menghancurkan lebih dari 60 perahu kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam upaya memberikan tekanan maksimal atas pelanggaran gencatan senjata. Sebagai balasan, IRGC menyerang instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Keputusan sepihak AS ini tidak hanya mengguncang pasar energi global, tetapi juga berpotensi mempengaruhi Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan membebani anggaran subsidi energi dan mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak volatilitas harga minyak terhadap inflasi dan defisit neraca perdagangan.
Markas Besar Komando Militer Gabungan Iran, Khatam al-Anbiya, mengecam serangan AS sebagai "tindakan agresi yang terang-terangan" dan mengancam akan memberikan "respons yang menghancurkan". Teheran juga memperingatkan tidak akan membiarkan campur tangan AS dalam pengelolaan Selat Hormuz, jalur vital bagi sepertiga perdagangan minyak dunia. Ketegangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak yang dapat mendorong harga lebih tinggi lagi.
"Perkembangan terakhir secara efektif telah mengguncang masa depan proses negosiasi 60 hari," ujar Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB. "Menurut saya, harga mendekati US$80 per barel lebih konsisten dengan fundamental pasar saat ini daripada US$70."
Meski Trump membuka kemungkinan perwakilan AS tetap bisa bernegosiasi, ia meragukan hasilnya. "Mereka bisa bicara, tapi saya pikir mereka hanya membuang-buang waktu," katanya. Sikap keras ini menutup peluang diplomasi dan meningkatkan risiko konflik terbuka di kawasan Teluk. Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi pengingat akan kerentanan pasokan energi nasional terhadap gejolak geopolitik global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Iran akan benar-benar melancarkan serangan balasan yang lebih masif, atau justru kembali ke meja perundingan di bawah tekanan ekonomi. Sementara itu, pasar minyak akan terus bergerak liar mengikuti setiap perkembangan baru dari Washington dan Teheran.



