Laba Taspen 2025 Turun Jadi Rp1,04 Triliun, Rasio Klaim THT ‘Bocor’ 264%
Baca dalam 60 detik
- PT Taspen membukukan laba tahun berjalan Rp1,044 triliun pada 2025, turun 15,9% dari Rp1,242 triliun tahun sebelumnya, meski melampaui target 123,84%.
- Rasio klaim program Tabungan Hari Tua (THT) mencapai 264%, artinya setiap Rp100 premi dibayarkan Rp264 klaim, ditambal dari hasil investasi yang imbal hasilnya naik ke 8,21%.
- Total aset kelolaan Taspen, termasuk Dana AIP, tumbuh signifikan dengan CAGR 11,49% menjadi Rp286,24 triliun, didominasi investasi pada Surat Berharga Negara.

PT Taspen (Persero) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp1,044 triliun sepanjang 2025, merosot 15,9% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,242 triliun. Meskipun turun, realisasi laba tersebut setara 123,84% dari target yang dibidik perseroan, menunjukkan bahwa kinerja keuangan BUMN pengelola dana pensiun dan tabungan hari tua ini masih di atas ekspektasi internal.
Pendapatan Taspen pada 2025 bersumber dari tiga pilar utama: iuran dan premi sebesar Rp7,736 triliun, hasil investasi Rp9,872 triliun, serta pendapatan lain-lain Rp1,863 triliun. Namun, beban klaim yang membengkak menjadi tantangan serius. Rasio klaim program Tabungan Hari Tua (THT) melonjak ke level 264% pada 2025, naik dari 256% pada 2024. Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto menyebut kondisi ini sebagai kebocoran yang harus ditambal dengan hasil investasi. "Artinya dari 100 rupiah premi yang masuk ke Taspen, kita bayar keluar 264. Jadi ada... bahasa Betawinya tuh bocos. Tapi gimana caranya menambal? Pakai hasil investasi," ujarnya di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Rasio klaim program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) juga meningkat menjadi 28% pada 2025, dibandingkan 20% pada 2024 dan 21% pada 2023. Sebaliknya, rasio klaim Jaminan Kematian (JKM) terus menurun ke 64% pada 2025, dari 69% pada 2024 dan 84% pada 2023. Tren positif imbal hasil investasi (yield on investment/YOI) menjadi penopang utama. YOI konsolidasi naik dari 7,29% pada 2023 menjadi 7,66% pada 2024, dan kembali meningkat ke 8,21% pada 2025.
Dari sisi pengelolaan aset, total aset program THT, JKK, dan JKM mencapai Rp156,79 triliun pada 2025, tumbuh dari Rp149,55 triliun pada 2024 dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,91%. Sementara itu, Dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) mencatatkan pertumbuhan lebih agresif: asetnya melonjak dari Rp250,68 triliun pada 2024 menjadi Rp286,24 triliun pada 2025, dengan CAGR 11,49%. Imbal hasil investasi AIP juga meningkat tipis dari 7,28% menjadi 7,38%.
Portofolio investasi Taspen masih didominasi instrumen konservatif. Untuk program THT, JKK, dan JKM, porsi terbesar ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp56,35 triliun atau 47,84% dari total portofolio. Disusul deposito Rp21,94 triliun (18,63%), reksa dana Rp12,71 triliun (10,79%), obligasi, sukuk, MTN, dan EBA Rp11,26 triliun (9,56%), saham Rp8,13 triliun (6,90%), serta investasi langsung Rp7,40 triliun (6,28%). Komposisi serupa berlaku untuk program THT secara spesifik, dengan SBN mendominasi 48,46%.
Sementara itu, Dana AIP memiliki alokasi yang lebih besar ke SBN, mencapai Rp193,37 triliun atau 71,62% dari portofolio. Deposito menyusul Rp43,91 triliun (16,27%), obligasi dan sukuk Rp12,74 triliun (4,72%), reksa dana Rp10,16 triliun (4,06%), saham Rp8,08 triliun (2,99%), serta investasi langsung hanya Rp0,93 triliun (0,34%).
Bagi peserta dan pemangku kepentingan, penurunan laba dan tingginya rasio klaim THT menjadi sinyal perlunya evaluasi mekanisme iuran dan pengelolaan risiko. Taspen mengandalkan hasil investasi untuk menutup defisit klaim, sebuah strategi yang rentan terhadap fluktuasi pasar. Pertanyaan kuncinya: akankah imbal hasil investasi mampu terus tumbuh seiring meningkatnya tekanan klaim di masa depan?



