Konflik AS-Iran Mendesak Harga Minyak, Bursa Tokyo Terjun Bebas
Baca dalam 60 detik
- Nikkei anjlok 2,11% setelah serangan AS ke Iran memicu kenaikan harga minyak mentah dan kekhawatiran inflasi global.
- Imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun menembus level tertinggi sejak 1997, menambah tekanan pada pasar saham.
- Eskalasi geopolitik Timur Tengah berpotensi memperburuk neraca perdagangan Indonesia melalui lonjakan harga energi.

Bursa saham Tokyo ditutup di zona merah pada Rabu (8/7/2026) setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dan menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi global. Indeks Nikkei 225 ambles 1.437,91 poin (2,11%) ke level 66.819,05, sementara Topix yang lebih luas merosot 55,83 poin (1,37%) menjadi 4.006,43.
Penurunan terbesar terjadi pada sektor instrumen presisi, logam nonbesi, dan permesinan di papan utama Prime Market. Sentimen negatif ini dipicu oleh pernyataan militer AS yang mengklaim telah melancarkan serangan ke Iran sebagai balasan atas aksi terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Harga minyak mentah langsung meroket, menekan saham-saham yang sensitif terhadap biaya energi seperti otomotif dan maskapai penerbangan.
Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari dalam negeri Jepang. Kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal di bawah kebijakan fiskal โproaktif dan bertanggung jawabโ Perdana Menteri Sanae Takaichi membuat imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga dekade. Hal ini mendorong aksi jual di pasar obligasi dan ikut membebani saham.
Menurut Maki Sawada, strategis di Departemen Konten Investasi Nomura Securities, reaksi pasar saat ini belum menunjukkan kepanikan total. โJika investor benar-benar pesimistis, kita akan melihat penurunan merata di semua sektor,โ ujarnya. Namun, ia menambahkan bahwa risiko lonjakan harga minyak belum dianggap sebagai faktor negatif utama oleh pelaku pasar. Volatilitas di saham-saham chip dan kecerdasan buatan (AI) berkapitalisasi besar sempat mendorong indeks ke zona hijau sebelum akhirnya kembali tertekan.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak menjadi sinyal waspada. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, lonjakan harga energi dapat memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi global juga berpotensi memicu arus keluar modal asing dari pasar obligasi Indonesia. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi impor dan menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.
Ke depan, arah pasar akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Jika konflik berkepanjangan, harga minyak berpotensi terus melambung dan memperkuat tekanan inflasi global. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi guncangan energi yang mungkin berlangsung lebih lama dari perkiraan?



