Kesepakatan Batal: Besiktas Gagal Gaet Laurienté, Beralih ke Trossard dari Arsenal
Baca dalam 60 detik
- Besiktas membatalkan rencana merekrut Armand Laurienté dari Sassuolo karena harga €30 juta dinilai terlalu tinggi.
- Klub Turki itu kini mengalihkan target ke Leandro Trossard, yang kontraknya di Arsenal tersisa satu tahun, dengan tawaran €18 juta plus bonus.
- Kegagalan transfer ini menambah daftar frustrasi Laurienté, setelah sebelumnya batal pindah ke Sunderland pada 2025.

Kesepakatan transfer yang sempat di depan mata antara Besiktas dan Sassuolo untuk pemain sayap Armand Laurienté resmi batal. Klub asal Istanbul itu memutuskan mundur setelah harga yang diminta Sassuolo dinilai terlalu mahal, dan kini mengalihkan perhatian ke pemain Arsenal, Leandro Trossard.
Laporan dari media Turki dalam 24 jam terakhir sudah mengindikasikan bahwa Besiktas hanya bersedia mendatangkan satu pemain sayap anyar di bursa transfer musim panas ini. Laurienté, yang telah menyetujui syarat pribadi dengan Besiktas dan sangat antusias pindah, akhirnya harus gigit jari karena Sassuolo membanderolnya dengan harga €30 juta.
Angka tersebut menjadi batu sandungan. Besiktas, yang dilatih Vincenzo Italiano sejak musim panas ini, kemudian bergerak cepat mengejar Trossard. Pemain asal Belgia itu memasuki tahun terakhir kontraknya di Arsenal, sehingga harga transfernya lebih realistis. Menurut konfirmasi The Athletic, proposal Besiktas senilai €18 juta plus €2 juta bonus telah diterima Arsenal.
Kini tinggal negosiasi gaji pribadi dengan Trossard. Pemain berusia 30 tahun itu diperkirakan akan menerima kontrak senilai €9 juta per musim, naik signifikan dari pendapatannya di Arsenal. Jika jadi, ini akan menjadi amunisi berharga bagi Italiano yang tengah membangun skuad kompetitif di liga Turki.
Bagi Laurienté, kegagalan ini seperti déjà vu. Pada musim panas 2025, ia juga frustrasi ketika transfer ke Sunderland gagal karena tuntutan harga Sassuolo yang terlalu tinggi. Pola yang sama terulang: Sassuolo cenderung mematok harga tinggi untuk pemain andalannya, sehingga berpotensi membuat pemain kehilangan kesempatan pindah ke klub yang lebih besar.
Dari sudut pandang industri sepak bola, kasus ini menunjukkan betapa pentingnya fleksibilitas harga di bursa transfer. Klub-klub kecil seperti Sassuolo sering kali berada dalam posisi sulit: ingin memaksimalkan keuntungan, tetapi berisiko kehilangan pemain karena harga yang tidak realistis. Di sisi lain, pembeli seperti Besiktas harus pintar membaca pasar dan mencari alternatif yang lebih terjangkau.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini mengingatkan pada dinamika bursa transfer di Liga 1, di mana negosiasi harga sering kali alot dan berujung batal. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya komunikasi dan kesepakatan yang realistis antara klub penjual dan pembeli agar transfer bisa berjalan mulus.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Laurienté akhirnya mendapatkan klub baru sebelum bursa transfer ditutup? Atau akankah Sassuolo menurunkan banderolnya agar pemain tidak kembali frustrasi? Sementara itu, Trossard tinggal selangkah lagi berseragam hitam-putih Besiktas, dan jika jadi, ia akan menjadi salah satu pemain dengan gaji tertinggi di Turki.



