Arsenal Jual 'Julian Alvarez' Versi Mereka Hanya Rp80 Miliar, Kini Menyesal?
Baca dalam 60 detik
- Arsenal melepas Mika Biereth ke Monaco dengan harga hanya £4 juta, padahal ia kini menjelma menjadi salah satu penyerang paling mematikan di Eropa.
- Biereth, yang dijual pada 2024, mencetak 27 gol dalam 44 laga pada musim 2024/25, menunjukkan potensi besar yang luput dari radar The Gunners.
- Perbandingan statistik menunjukkan Biereth lebih mirip Julian Alvarez dalam hal membangun serangan, sementara Viktor Gyokeres yang dibeli mahal justru lemah dalam aspek tersebut.

Keputusan Arsenal melepas Mika Biereth dengan harga murah pada musim panas 2024 mulai terasa seperti kesalahan strategis. Penyerang asal Denmark itu, yang dijual ke Monaco hanya seharga £4 juta (sekitar Rp80 miliar), kini menjelma menjadi salah satu penyerang paling ditakuti di Eropa. Ironisnya, Arsenal justru tengah memburu Julian Alvarez—pemain dengan profil yang sangat mirip dengan Biereth—dengan banderol lebih dari £130 juta.
Biereth, yang saat ini berusia 23 tahun, mencatatkan 27 gol dalam 44 penampilan untuk Monaco dan Sturm Graz pada musim 2024/25. Performa itu membuatnya dijuluki "salah satu penyerang paling berbahaya di Eropa" oleh mantan pemain Manchester United, Paul Parker. Sementara itu, Arsenal kini bergantung pada Viktor Gyokeres yang meski mencetak 21 gol di Premier League musim lalu, memiliki kelemahan signifikan dalam hal membangun serangan dan kemampuan bertahan bola.
Perbandingan statistik antara Biereth, Alvarez, dan Gyokeres mengungkapkan fakta menarik. Dalam hal expected threat (xT) pada fase membangun serangan, Biereth unggul jauh dibanding Gyokeres dan lebih mendekati Alvarez. Begitu pula dalam expected assists dari open play, Biereth tercatat lebih baik dari rekan setimnya di Arsenal. Meski Biereth kalah dalam hal dribel—hanya 0,07 dribel sukses per laga—kemampuannya dalam menghubungkan permainan membuatnya lebih cocok dengan gaya Alvarez ketimbang Gyokeres yang cenderung individualistis.
Keputusan menjual Biereth mungkin tidak akan terlalu disesali jika Gyokeres tampil sempurna. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penyerang Swedia itu termasuk dalam 15% terburuk striker Eropa untuk duel udara, 1% terburuk untuk dribel, dan 19% terburuk untuk expected threat. Artinya, ia sering kehilangan bola dan kesulitan menjadi bagian dari permainan kolektif. Arsenal pun mulai melirik Alvarez, yang memiliki kemampuan membangun serangan jauh lebih baik—berada di 18% terbaik untuk dribel dan 9% terbaik untuk xT.
Fenomena ini mengingatkan pada pola yang kerap terjadi di klub-klub besar Eropa: melepas talenta muda yang kemudian bersinar di tempat lain. Arsenal sendiri memiliki sejarah panjang dengan pemain akademi seperti Folarin Balogun yang kini bersinar di Monaco setelah dijual. Biereth mengikuti jejak serupa. Bagi klub sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memberikan kesempatan pada pemain muda sebelum memutuskan menjualnya, terutama jika profil mereka sesuai dengan kebutuhan taktis tim utama.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah Arsenal menebus kesalahan dengan merekrut Alvarez, atau justru akan kembali menyesal karena melepas Biereth yang kini harganya bisa melonjak drastis? Dengan bursa transfer musim panas yang masih panjang, keputusan The Gunners akan menjadi sorotan.



