Kebijakan Transfer Ten Hag Dipertanyakan: Jual Masa Depan MU Seharga Rp10 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Manchester United melepas Maxi Oyedele ke Legia Warsaw hanya dengan £500 ribu, padahal kini ia menjadi andalan Strasbourg di Ligue 1.
- Oyedele, lulusan akademi MU, menunjukkan performa impresif dengan akurasi umpan 90% dan kehilangan bola lebih sedikit dibanding Andrey Santos yang dibidik MU seharga £50 juta.
- Keputusan Erik ten Hag melepas pemain muda potensial seperti Oyedele, Alvaro Carreras, dan James Garner menimbulkan pertanyaan tentang penilaian bakatnya.

Manchester United kembali dihadapkan pada ironi transfer yang menyakitkan: melepas pemain muda berbakat dengan harga murah, lalu harus merogoh kocek puluhan juta pound untuk mencari pengganti yang tak lebih baik. Kasus terbaru menimpa Maxi Oyedele, gelandang jebolan akademi Carrington yang dijual ke Legia Warsaw hanya seharga £500 ribu (sekitar Rp10 miliar) pada musim panas 2024, namun kini justru bersinar di Strasbourg—klub yang menjadi tempat peminjaman Andrey Santos, target utama Setan Merah di bursa transfer.
Oyedele, yang kini berusia 21 tahun, merupakan bagian dari skuad FA Youth Cup 2022 bersama Alejandro Garnacho dan Kobbie Mainoo. Setelah masa peminjaman di Altrincham dan Forest Green Rovers, ia tampil meyakinkan pada pramusim 2024 dengan assist melawan Rangers. Namun, Erik ten Hag memilih melepasnya secara permanen ke Legia Warsaw dengan nilai yang sangat rendah. Keputusan itu langsung menuai kritik dari kapten MU, Bruno Fernandes, yang disebut "terkejut" oleh pelatih Legia, Goncalo Feio, karena Oyedele dinilai tampil gemilang selama pramusim.
Kepergian Oyedele ke Strasbourg pada musim panas 2025—langsung menggantikan nomor punggung 8 milik Santos—makin mempertegas kesalahan perhitungan MU. Meski sempat terganggu cedera, Oyedele menunjukkan kualitasnya di Ligue 1 dengan akurasi umpan mencapai 90% dan hanya kehilangan bola 5,5 kali per pertandingan. Catatan itu lebih baik dari Santos yang musim sebelumnya memiliki akurasi umpan 89% dan kehilangan bola 8,3 kali per laga. Padahal, MU saat ini dikabarkan serius mengejar Santos yang dibanderol sekitar £50 juta—seratus kali lipat dari harga jual Oyedele.
Kebijakan transfer Ten Hag memang sarat kontroversi. Selain Oyedele, ada James Garner yang dijual ke Everton seharga £9 juta dan kini menjadi pemain kunci dengan catatan assist dan key passes terbaik di Premier League. Alvaro Carreras, bek kiri yang tak pernah diberi kesempatan di tim utama MU, bahkan kini berseragam Real Madrid setelah dibeli dari Benfica seharga £40 juta. Tiga pemain itu hanya mengoleksi total tujuh penampilan di tim utama MU sebelum dilepas.
Jika dibandingkan dengan konteks Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada kebiasaan klub-klub Eropa yang kerap melepas pemain muda potensial dengan harga murah, lalu menyesal di kemudian hari. Bagi pengamat sepak bola Tanah Air, kasus Oyedele menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memberikan kesempatan kepada pemain akademi sebelum mengambil keputusan transfer yang terburu-buru. Apalagi, MU saat ini tengah gencar mencari gelandang baru di tengah performa lini tengah yang kurang konsisten.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah MU di bawah arahan Ten Hag dan INEOS akan terus mengulangi pola yang sama—melepas talenta muda dengan harga murah, lalu membeli pemain mahal yang belum tentu lebih baik? Atau akankah mereka belajar dari kesalahan dan mulai memberikan kepercayaan lebih kepada lulusan akademi? Hingga bursa transfer ditutup, sorotan tetap tertuju pada langkah MU selanjutnya.



