Bripda Nopandri Ditemukan Tewas Usai Hilang Saat Penggerebekan Narkoba di Katingan
Baca dalam 60 detik
- Anggota Satresnarkoba Polres Katingan, Bripda Nopandri Ramadhana, ditemukan meninggal di Sungai Katingan setelah dilaporkan hilang saat penggerebekan bandar narkoba.
- Insiden bermula saat 12 personel menggerebek rumah target residivis narkoba, namun dihadang perlawanan warga bersenjata tajam dan rakitan hingga dua anggota tewas.
- Bareskrim Polri bersama Polda Kalteng masih memburu pelaku penyerangan dan mengimbau masyarakat memberikan informasi.

Nasib nahas menimpa Bripda Nopandri Ramadhana, anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang sebelumnya dilaporkan hilang saat penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kalimantan Tengah. Jasadnya ditemukan terapung di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, seberang Desa Tumbang Lahang, pada Sabtu (4/7) sore. Penemuan ini menggenapi daftar korban dalam operasi yang berujung ricuh pada Rabu (1/7) malam lalu, di mana seorang anggota lain, Aipda Yudhie Perdana Putra, juga tewas dengan luka senjata tajam.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengonfirmasi bahwa jenazah Nopandri ditemukan dalam kondisi kaku dan tersangkut ranting kayu oleh Briptu Rangga serta Bripda Ryan. Saat ini, jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani autopsi guna mengetahui penyebab pasti kematian. "Almarhum gugur saat menjalankan tugas. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan," ujar Eko dalam keterangan resmi, Minggu (5/7).
Operasi yang menewaskan dua personel ini bermula dari laporan masyarakat tentang peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Sebanyak 12 personel diterjunkan dan dibagi dalam dua tim: satu melakukan penangkapan di rumah target berinisial BIOโseorang residivis narkobaโdan satu lagi sebagai pendukung. Target berhasil diamankan, namun situasi berubah ketika sejumlah orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan parang, senjata tajam, dan senjata api rakitan. Massa yang terus bertambah membuat anggota polisi kewalahan dan terpaksa menyelamatkan diri dengan berenang menyeberangi sungai serta berlindung di hutan.
Eko menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi perhatian serius Bareskrim. Tim gabungan dari Bareskrim, Polda Kalimantan Tengah, dan Polres Katingan terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang diduga terlibat. "Kami tidak akan berhenti sampai seluruh pelaku berhasil diamankan dan diproses sesuai hukum yang berlaku," tegasnya. Ia juga mengimbau masyarakat yang memiliki informasi untuk segera melapor, menjamin setiap informasi akan ditindaklanjuti.
Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi aparat dalam pemberantasan narkoba di daerah terpencil, di mana jaringan bandar sering kali memiliki dukungan warga yang terintimidasi atau terlibat. Ketegangan antara penegak hukum dan komunitas lokal menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika senjata api rakitan mudah diakses. Kasus ini juga mengingatkan pada operasi serupa di beberapa daerah lain yang berakhir dengan perlawanan massa.
Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah penegakan hukum di wilayah rawan narkoba seperti Katingan perlu strategi yang lebih adaptif, termasuk pendekatan komunitas dan pengamanan yang lebih ketat? Sementara keluarga korban menanti keadilan, publik berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku segera diadili.



