Hari Kesembilan Kebakaran TPA Jatiwaringin: Asap Masih Mengepul, 50 Persen Area Berhasil Dipadamkan
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, memasuki hari kesembilan dengan asap tebal masih menyelimuti lokasi, meski api permukaan mulai padam.
- BNPB mengerahkan empat helikopter water bombing untuk menjangkau titik api di bawah timbunan sampah yang sulit diakses lewat darat, meniru metode pemadaman kebakaran gambut.
- Hingga hari kedelapan, separuh area terbakar telah terkendali dan pembersihan mencapai 70 persen, namun tantangan material berbahaya seperti plastik dan kaca masih mengancam petugas.

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, belum juga padam sepenuhnya hingga hari kesembilan, Rabu (8/7). Asap tebal masih membubung dari tumpukan sampah, meskipun kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat lagi. Operasi pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan dari berbagai instansi.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah petugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Manggala Agni bersiap melanjutkan upaya pemadaman. Armada pemadam kebakaran dan alat berat seperti buldoser serta ekskavator telah disiagakan untuk membongkar tumpukan sampah yang masih mengeluarkan asap. Sekitar pukul 08.02 WIB, satu unit helikopter water bombing milik BNPB tiba dan langsung melakukan penyiraman dari udara.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan mengungkapkan bahwa total empat helikopter water bombing akan dikerahkan untuk membantu pemadaman. "Kami langsung mengerahkan dukungan heli karena ada beberapa spot yang tidak bisa dilakukan pemadaman lewat darat. Insyaallah besok (Rabu) di atas sini ada 4 lagi," ujarnya, Selasa (7/7). Langkah ini diambil karena karakteristik kebakaran di TPA mirip dengan kebakaran lahan gambut, di mana api menyala di bawah permukaan timbunan sampah sehingga sulit dijangkau.
Djohan menjelaskan bahwa pada hari kedelapan, tim pemadam berhasil mengendalikan sekitar separuh area kebakaran. Selain itu, pembersihan material sampah yang terbakar juga sudah mencapai 70 persen. Namun, proses pemadaman masih menghadapi tantangan berat. Material seperti plastik dan pecahan kaca di dalam tumpukan sampah membahayakan petugas, sementara api yang membara di bawah permukaan memerlukan metode khusus. "Metode penguraian yaitu alat berat seperti buldozer dan ekskavator dikerahkan untuk mengais dan membongkar tumpukan sampah yang masih mengeluarkan asap," kata Djohan.
Kebakaran TPA Jatiwaringin pertama kali terjadi pada Selasa, 30 Juni, dan hingga kini belum sepenuhnya padam. Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan sistem pengelolaan sampah di Indonesia, terutama di TPA yang sering kali menjadi sumber bencana lingkungan. Masyarakat sekitar masih harus bersabar dengan asap yang mengganggu kesehatan, sementara petugas terus berupaya memastikan seluruh titik api benar-benar padam. Pertanyaan yang muncul: apakah insiden ini akan mendorong perbaikan tata kelola sampah dan kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran di TPA-TPA lain di Indonesia?



