Derbi Iberia: Enam Laga Klasik yang Membentuk Rivalitas Portugal vs Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Portugal dan Spanyol akan bertemu di babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Dallas, menambah daftar panjang pertemuan sejak 1921.
- Dari final Nations League 2025 hingga kekalahan 9-0 di kualifikasi 1934, rivalitas ini penuh drama dan momen ikonik.
- Pertemuan ini selalu menyajikan tensi tinggi, dengan adu penalti dan gol-gol spektakuler mewarnai sejarah keduanya.

Portugal dan Spanyol, dua raksasa sepak bola Semenanjung Iberia, akan kembali berhadapan di babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Dallas pada 6 Juli mendatang. Pertemuan ke-42 dalam sejarah ini bukan sekadar laga biasa; ia adalah kelanjutan dari rivalitas yang telah berlangsung lebih dari satu abad, penuh dengan kenangan manis dan pahit bagi kedua kubu.
Sejak pertama kali bertemu pada 19 Desember 1921 di Madrid, di mana Spanyol menang 3-1 dalam laga persahabatan, kedua tim telah saling berhadapan sebanyak 41 kali. Dari jumlah tersebut, 29 di antaranya adalah pertandingan persahabatan dan 12 sisanya adalah laga kompetitif. Kini, dengan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026 sebagai taruhan, tensi dipastikan akan mencapai puncaknya.
FIFA baru-baru ini merilis enam pertemuan paling berkesan antara kedua negara, yang tidak hanya menggambarkan rivalitas sengit tetapi juga evolusi sepak bola Eropa. Mulai dari final UEFA Nations League 2025 hingga kekalahan telak 9-0 di kualifikasi Piala Dunia 1934, setiap laga menyisakan cerita yang tak terlupakan.
Salah satu laga yang paling membekas adalah final UEFA Nations League 2025 di Munich. Setelah bermain imbang 2-2 sepanjang waktu normal dan perpanjangan waktu, Portugal keluar sebagai pemenang melalui adu penalti. Cristiano Ronaldo menjadi bintang dengan gol penyama kedudukan di babak kedua, sementara Alvaro Morata menjadi pahlawan yang gagal bagi Spanyol setelah penaltinya ditepis. Kemenangan ini menegaskan dominasi Portugal di pentas Eropa, meskipun Spanyol unggul dalam penguasaan bola.
Namun, tidak semua kenangan indah bagi Portugal. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, kedua tim bertemu di babak penyisihan grup dalam laga yang berakhir dramatis 3-3. Cristiano Ronaldo mencetak hat-trick, termasuk gol tendangan bebas spektakuler di menit-menit akhir, untuk menyelamatkan Portugal dari kekalahan. Sayangnya, kedua tim gagal melaju jauh: Spanyol tersingkir di babak 16 besar oleh Rusia, sementara Portugal kalah dari Uruguay di perempat final.
Pertemuan di semifinal Euro 2012 menjadi saksi betapa sengitnya rivalitas ini. Setelah bermain imbang 0-0 selama 120 menit, Spanyol menang adu penalti 4-2. Cristiano Ronaldo, yang seharusnya menjadi penendang kelima Portugal, tidak mendapat kesempatan karena dua eksekutor sebelumnya gagal. Spanyol kemudian melaju ke final dan menghancurkan Italia 4-0 untuk mempertahankan gelar juara Eropa.
Di Piala Dunia 2010, Spanyol yang akhirnya menjadi juara harus melewati Portugal di babak 16 besar. Gol tunggal David Villa pada menit ke-63 sudah cukup untuk mengantarkan La Roja ke perempat final, sementara Portugal yang mengandalkan Ronaldo yang tidak fit harus pulang lebih awal. Laga ini menunjukkan betapa efektifnya permainan penguasaan bola Spanyol dalam meredam ancaman lawan.
Bagi Indonesia, rivalitas Portugal-Spanyol menjadi tontonan yang sarat gengsi. Kedua tim memiliki basis penggemar yang besar di tanah air, dan pertemuan mereka selalu dinanti. Selain itu, gaya permainan yang berbeda—Portugal dengan serangan balik cepat dan Spanyol dengan tiki-taka—memberikan pelajaran taktik yang berharga bagi perkembangan sepak bola nasional. Momen seperti hat-trick Ronaldo atau kegagalan penalti Morata menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pencinta sepak bola Indonesia.
Dengan sejarah panjang yang penuh drama, pertemuan di Dallas nanti dipastikan akan menambah babak baru dalam rivalitas Iberia. Akankah Portugal kembali mempermalukan Spanyol seperti di Nations League, atau justru Spanyol yang akan membalas dendam? Satu hal yang pasti: dunia sepak bola akan kembali disuguhkan pertarungan kelas atas yang tak boleh dilewatkan.



