Pertarungan Kotor Paraguay vs Prancis: Wasit Digugat, Mbappe Tetap Tenang
Baca dalam 60 detik
- Prancis menang 1-0 atas Paraguay di Piala Dunia 2026, namun pertandingan diwarnai aksi brutal Paraguay yang tidak mendapat kartu.
- Wasit Ilgiz Tantashev dikritik karena lemah dalam mengendalikan permainan, sementara Mbappe mencetak gol penalti ke-19 di Piala Dunia.
- Kemenangan ini membawa Prancis ke perempat final melawan Maroko, sekaligus menunjukkan kemampuan mereka bermain 'kotor'.

Prancis harus bekerja ekstra keras untuk menaklukkan Paraguay 1-0 di babak 16 besar Piala Dunia 2026, dalam laga yang berlangsung panas—baik secara suhu maupun tensi—di Philadelphia. Kylian Mbappe menjadi pahlawan lewat gol penalti pada menit ke-70, namun sorotan justru tertuju pada permainan kasar Paraguay yang dinilai 'memalukan' oleh sejumlah mantan pemain Inggris.
Paraguay, yang sebelumnya mengejutkan Jerman di babak sebelumnya, mengubah pendekatan mereka menjadi agresif dan provokatif. Bek Prancis Dayot Upamecano mendapat siku di perut, Adrien Rabiot dihajar keras tanpa kartu, dan Mbappe terus-menerus menjadi sasaran tekel keras. Yang paling mengejutkan, wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, tidak memberikan satu pun kartu kuning kepada pemain Paraguay, sementara tiga pemain Prancis—Manu Kone, Bradley Barcola, dan Michael Olise—justru diganjar kartu.
"Itu memalukan untuk ditonton," ujar mantan bek Inggris Micah Richards kepada BBC One. "Paraguay sebenarnya lebih baik dari itu. Secara defensif mereka bagus, tidak perlu melakukan aksi-aksi konyol seperti itu." Mantan kiper Inggris Joe Hart bahkan menyebut pemain Paraguay sebagai "aib" dan mengatakan ia akan menarik mereka keluar lapangan jika menjadi pelatih. Thomas Hitzlsperger, mantan gelandang Jerman, menambahkan bahwa ia "tidak punya rasa hormat" terhadap Paraguay.
Pelatih Prancis Didier Deschamps mengakui bahwa timnya harus beradaptasi dengan taktik licik Paraguay. "Mereka menggunakan setiap trik dalam buku. Ini bukan sepak bola yang akan membawa orang ke stadion, tetapi mereka bertahan dengan baik. Selalu sulit melawan tim Amerika Selatan seperti ini," ujarnya. Deschamps bahkan memerintahkan pemain terbesarnya untuk melindungi Mbappe di menit-menit akhir agar tidak ditebang.
Mbappe sendiri menunjukkan ketenangan luar biasa. Ia tertawa menghadapi provokasi pemain Paraguay dan setelah pertandingan berkata, "Mereka pikir kami akan datang dengan setelan jas, tapi kami siap. Kami tahu cara bermain sepak bola jelek." Sikapnya dipuji Joe Hart: "Saya suka bagaimana Mbappe bersikap. Pemain Paraguay sudah menargetkannya sejak menit pertama. Saat dia tertawa pada mereka, dia berhak menjadi arogan."
Kemenangan ini membawa Prancis ke perempat final melawan Maroko di Boston Stadium pada Kamis (21:00 BST). Bagi Indonesia, laga ini menjadi pelajaran tentang pentingnya pengendalian emosi dan disiplin wasit dalam turnamen besar. Jika wasit tidak tegas, permainan bisa berubah menjadi ajang balas dendam yang merusak sportivitas. Wasit seperti Michael Oliver, yang memberikan enam kartu kuning di babak pertama saat Kanada vs Maroko, menjadi contoh bagaimana otoritas wasit dapat menenangkan permainan.
Pertanyaan yang tersisa: akankah FIFA mengevaluasi kinerja wasit Tantashev? Dan mampukah Prancis mempertahankan ketenangan mereka saat menghadapi Maroko yang juga dikenal agresif? Satu hal pasti, Prancis telah membuktikan bahwa mereka bisa menang dengan cara apa pun—bahkan saat menghadapi 'seni gelap' sepak bola.



