M2 AS Tembus Rekor US$23 Triliun, Pasar Kripto Terpacu
Baca dalam 60 detik
- Pasokan uang beredar AS (M2) mencapai rekor US$23,05 triliun pada Mei, naik 5,6% year-on-year, tertinggi sejak Juli 2022.
- Kapitalisasi pasar kripto naik 1,77% menjadi US$2,278 triliun, dengan Bitcoin dan Ethereum memimpin kenaikan.
- Ekspansi likuiditas ini memperkuat narasi Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap depresiasi dolar, berpotensi mendorong aliran modal ke aset berisiko.

Kapitalisasi pasar mata uang kripto global melonjak 1,77 persen menjadi US$2,278 triliun setelah pasokan uang beredar di Amerika Serikat menembus rekor baru. Data terbaru Federal Reserve menunjukkan M2—ukuran luas jumlah uang beredar yang mencakup uang tunai, deposito, dan instrumen likuid lainnya—mencapai US$23,052 triliun pada Mei, naik US$247,8 miliar dari bulan sebelumnya.
Kenaikan ini menandai laju pertumbuhan tahunan tertinggi sejak Juli 2022, yakni 5,6 persen. Dalam lima bulan pertama tahun ini, M2 telah bertambah sekitar US$623 miliar, dari US$22,43 triliun pada Januari. Lonjakan likuiditas ini menjadi sinyal yang dinanti pelaku pasar, terutama di tengah kekhawatiran inflasi dan pelemahan daya beli dolar dalam jangka panjang.
Bitcoin, sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, mencatat kenaikan 1,48 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$62.900. Sementara itu, Ethereum melesat 3,47 persen. Hampir seluruh sektor pasar mencatatkan penguatan, kecuali sektor kecerdasan buatan (AI) yang cenderung stagnan. Para analis menilai optimisme investor kembali menguat seiring membanjirnya likuiditas di pasar keuangan global.
Dari sudut pandang investasi, peningkatan jumlah uang beredar kerap memicu kekhawatiran akan depresiasi mata uang dan inflasi di masa depan. Dalam konteks ini, aset dengan pasokan terbatas seperti Bitcoin kembali dilirik sebagai lindung nilai (hedge) terhadap ekspansi moneter yang agresif. “Narasi Bitcoin sebagai ‘emas digital’ semakin relevan ketika bank sentral terus mencetak uang,” ujar seorang analis pasar yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena ini juga berimplikasi bagi Indonesia. Meski tidak secara langsung terpengaruh oleh kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS dan arus modal global kerap berdampak pada nilai tukar rupiah serta minat investor domestik terhadap aset kripto. Bank Indonesia mencatat bahwa volatilitas pasar keuangan global masih menjadi risiko utama bagi stabilitas sistem keuangan nasional. Jika likuiditas global terus mengalir deras, bukan tidak mungkin alokasi dana investor Indonesia ke aset digital ikut meningkat.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS dan sinyal kebijakan suku bunga The Fed. Jika M2 terus tumbuh tanpa diimbangi pengetatan moneter yang memadai, tekanan terhadap dolar berpotensi memperkuat daya tarik aset alternatif seperti kripto. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko regulasi dan volatilitas harga yang masih tinggi.



