Bitcoin Tembus US$64 Ribu: Rencana Cadangan Strategis AS Dongkrak Sentimen Pasar
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin melonjak di atas US$64.000 setelah Gedung Putih mengonfirmasi rencana pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis, yang dipandang sebagai langkah pengakuan aset kripto sebagai instrumen keamanan nasional.
- Akumulasi besar-besaran oleh investor besar (whale) dan masuknya dana segar ke ETF spot Bitcoin di awal Juli menjadi katalis tambahan, meskipun arus keluar tahun ini masih mencatatkan defisit US$2,73 miliar.
- Rencana cadangan strategis AS berpotensi mendorong adopsi institusional global, termasuk di Indonesia, di mana regulator tengah mengkaji kerangka aset digital yang lebih jelas.

Bitcoin berhasil menembus level psikologis US$64.000 pada awal Juli, didorong oleh konfirmasi Gedung Putih mengenai rencana pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis (Strategic Bitcoin Reserve) yang akan segera diumumkan secara resmi. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam pendekatan pemerintah Amerika Serikat terhadap aset kripto, yang kini tidak lagi dipandang semata sebagai instrumen spekulatif, melainkan sebagai aset keamanan nasional.
Kenaikan harga terjadi setelah periode 10 hari arus keluar dana dari ETF spot Bitcoin berhasil dihentikan. Pada pekan pertama Juli, ETF spot Bitcoin mencatatkan arus masuk bersih sekitar US$221,7 juta, membalikkan tren negatif Juni yang mengalami arus keluar hampir US$4,5 miliar dan koreksi harga Bitcoin hingga 20%. Meskipun demikian, total aset ETF Bitcoin masih berada di kisaran US$70 miliar, turun drastis dari puncak US$100 miliar pada awal Mei. Institusi keuangan tetap bersikap hati-hati, dengan sebagian mulai melirik narasi altcoin tertentu.
Katalis utama reli ini adalah rencana Cadangan Bitcoin Strategis AS, yang merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif yang ditandatangani pada Maret 2025. Rencana ini diyakini akan memberikan legitimasi baru bagi Bitcoin sebagai aset cadangan negara, serupa dengan emas. Para analis menilai bahwa langkah ini dapat memicu efek domino di negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempertimbangkan kembali sikap mereka terhadap aset kripto. Di dalam negeri, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) tengah menyusun regulasi yang lebih komprehensif untuk perdagangan aset digital, dan perkembangan di AS bisa menjadi acuan.
Faktor lain yang mendukung adalah akumulasi agresif oleh para pemilik modal besar (whale) di level harga rendah. Data on-chain menunjukkan peningkatan kepemilikan whale, yang memperkuat sentimen bullish di pasar opsi. Selain itu, tekanan inflasi global yang mulai mereda mengurangi kekhawatiran akan sikap hawkish bank sentral AS, sehingga meningkatkan minat beli dari investor ritel maupun korporasi. Namun, perlu dicatat bahwa meskipun lingkungan makroekonomi positif, arus keluar bersih ETF spot Bitcoin sepanjang tahun ini masih mencapai US$2,73 miliar, menandakan bahwa optimisme belum sepenuhnya merata.
Dampak kenaikan Bitcoin juga terasa di pasar kripto yang lebih luas. Ethereum, Binance Coin, dan XRP turut mencatatkan penguatan, sementara kapitalisasi pasar kripto global bertahan di angka US$2,2 triliun. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah reli ini berkelanjutan atau sekadar rebound sementara. Dengan rencana cadangan strategis AS yang masih menunggu detail implementasi, serta sikap institusi yang masih wait-and-see, pasar akan mencermati apakah Bitcoin mampu mempertahankan level US$64.000 dan menguji resistensi berikutnya di US$70.000.



