Ancelotti Bawa Brasil ke Piala Dunia 2026: Tenang di Pinggir Lapangan, Bukan karena Sok Keren
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengaku tidak bisa merayakan gol secara berlebihan karena faktor usia dan pengalaman buruk di masa lalu.
- Ancelotti menekankan perubahan mentalitas tim Brasil menjadi lebih percaya diri dan tidak mudah panik, meski tekanan sebagai favorit tetap besar.
- Pelatih asal Italia itu menerima kritik sebagai konsekuensi logis dari kehormatan menangani tim sekelas Brasil.

Ketenangan Carlo Ancelotti di pinggir lapangan saat Brasil mencetak gol penentu kemenangan atas Jepang di Piala Dunia 2026 bukanlah sikap sok keren. Pelatih berusia 67 tahun itu punya alasan medis dan psikologis: ia tidak bisa berlari karena risiko cedera lutut, dan pengalaman puluhan tahun mengajarkannya bahwa pertandingan belum berakhir sampai wasit meniup peluit panjang.
Dalam wawancara dengan Folha De S.Paulo jelang laga 16 besar melawan Norwegia, Ancelotti mengungkapkan bahwa euforia sesaat justru sering berujung petaka. “Saya tidak bisa merayakan karena sudah terlalu sering mengalami pertandingan yang saya kira selesai, tapi berakhir buruk,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika laga benar-benar usai, perasaan yang dominan adalah lega, bukan bahagia.
Ancelotti, satu-satunya pelatih yang pernah juara di lima liga top Eropa, kini menghadapi tantangan baru: membawa Brasil juara dunia untuk pertama kalinya sejak 2002. Tekanan publik dan media di negara sepak bola terbesar dunia itu sangat besar, namun Ancelotti menyikapinya dengan filosofi khas Italia. “Di Italia, mereka bilang semua pria ingin jadi pelatih dan semua wanita ingin jadi arsitek,” candanya. “Saya 100 persen yakin bukan jenius, tapi juga 100 persen yakin bukan bodoh. Ada tekanan, tapi ini kehormatan.”
Salah satu kunci keberhasilan Ancelotti adalah kemampuannya mengelola pemain bintang. Ia mengaku sudah membangun kedekatan dengan skuad Brasil sejak masih di Real Madrid. “Hal tersulit yang dilakukan tim selama ini adalah mengubah pola pikir. Kini mereka tampak lebih percaya diri, dengan kecemasan yang berkurang,” jelasnya. Ancelotti menekankan bahwa timnya siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk kebobolan lebih dulu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, gaya kepelatihan Ancelotti bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah budaya sepak bola yang kerap mengutamakan emosi dan euforia berlebihan, pendekatan tenang dan rasional seperti yang ditunjukkan Ancelotti justru bisa menjadi fondasi kesuksesan jangka panjang. Timnas Indonesia, yang tengah membangun skuad untuk masa depan, bisa meniru manajemen tekanan dan perubahan mentalitas yang diterapkan pelatih asal Italia itu.
Ancelotti juga melontarkan komentar jenius tentang kebiasaannya mengunyah permen karet di pinggir lapangan. “Saya lupa membawa permen karet ke ruang ganti saat melawan Jepang, jadi saya tidak mengunyah permen karet selama pertandingan itu,” katanya. Meski terdengar sepele, kebiasaan itu ternyata menjadi bagian dari ritual konsentrasinya.
Ke depan, Brasil akan menghadapi Norwegia di babak 16 besar. Pertanyaan besarnya: mampukah Ancelotti mempertahankan ketenangannya saat laga berjalan ketat? Atau akankah ia akhirnya berlari merayakan gol, meski berisiko cedera? Yang jelas, pelatih berjuluk ‘Don Carlo’ itu sudah membuktikan bahwa ketenangan bukanlah kelemahan, melainkan senjata.



