Cadangan Devisa Korea Selatan Tembus $427,4 Miliar pada Juni 2026
Baca dalam 60 detik
- Nilai cadangan devisa Korea Selatan naik tipis 0,4 miliar dolar AS menjadi 427,4 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026.
- Sebanyak 89% dari total cadangan berupa surat berharga, mencerminkan strategi investasi konservatif Bank of Korea.
- Peningkatan ini memperkuat ketahanan eksternal Korea Selatan di tengah ketidakpastian ekonomi global, menjadi tolok ukur bagi negara berkembang termasuk Indonesia.

Bank of Korea melaporkan cadangan devisa negara itu mencapai 427,4 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik tipis 0,4 miliar dolar AS dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 427,0 miliar dolar AS. Kenaikan ini, meski tidak spektakuler, menandai penguatan buffer eksternal Korea Selatan di tengah gejolak pasar keuangan global yang masih tinggi.
Komposisi cadangan devisa Korea Selatan masih didominasi oleh surat berharga (securities) yang mencapai 380,3 miliar dolar AS, atau setara 89,0% dari total kepemilikan. Sisanya terdiri dari deposito sebesar 22,3 miliar dolar AS (5,2%), Special Drawing Rights (SDR) 15,6 miliar dolar AS (3,7%), emas 4,8 miliar dolar AS (1,1%), dan posisi cadangan di IMF senilai 4,3 miliar dolar AS (1,0%). Struktur ini menunjukkan preferensi Bank of Korea pada instrumen likuid dan aman, terutama obligasi pemerintah AS dan negara maju lainnya.
Peningkatan cadangan devisa Korea Selatan terjadi di tengah kebijakan moneter ketat yang masih diterapkan bank sentral utama dunia. The Federal Reserve AS, misalnya, masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi, sementara Bank of Korea sendiri telah menahan suku bunga acuan di level 3,50% sejak awal tahun. Kondisi ini mendorong aliran modal masuk ke instrumen pendapatan tetap Korea, yang turut menopang cadangan devisa.
Bagi Indonesia, perkembangan cadangan devisa Korea Selatan menjadi indikator penting. Sebagai sesama negara emerging market di Asia, Indonesia kerap membandingkan ketahanan ekonominya dengan Korea Selatan. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia per Mei 2026 mencapai $145,2 miliar, jauh lebih kecil dari Korea Selatan. Namun, rasio kecukupan cadangan Indonesia terhadap impor dan utang luar negeri jangka pendek masih tergolong aman, yakni di atas 6 bulan impor. Kenaikan cadangan Korea Selatan menunjukkan bahwa negara dengan fundamental kuat masih mampu menarik aliran modal, meski suku bunga global tinggi.
Menurut analis ekonomi dari Universitas Korea, Park Sang-in, peningkatan cadangan devisa Korea Selatan mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Korea. โMeskipun kenaikannya tipis, tren ini positif karena menunjukkan bahwa surplus neraca berjalan dan aliran modal masuk masih cukup kuat untuk menopang cadangan,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa Bank of Korea kemungkinan akan terus mengakumulasi cadangan untuk mengantisipasi potensi gejolak nilai tukar won.
Ke depan, pergerakan cadangan devisa Korea Selatan akan bergantung pada kebijakan suku bunga global, terutama keputusan The Fed dan Bank of Korea sendiri. Jika suku bunga AS mulai turun pada akhir 2026, aliran modal ke Asia diperkirakan meningkat, yang bisa mendorong cadangan Korea Selatan menembus level $430 miliar. Namun, jika ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea meningkat, cadangan bisa terkikis untuk intervensi nilai tukar. Pertanyaannya, mampukah Korea Selatan mempertahankan tren akumulasi ini di tengah ketidakpastian global?



