Kinerja Pelabuhan Apapa 2025: Volume Kargo Naik 4,4 Persen, Ekspor Non-Minyak Terdongkrak
Baca dalam 60 detik
- Pelabuhan Apapa mencatat kenaikan volume kargo 4,4 persen pada 2025 menjadi 21,99 juta ton, didorong efisiensi operasional dan infrastruktur.
- Volume kontainer melonjak 34 persen menjadi 800.943 TEUs, seiring penambahan terminal ekspor dari lima menjadi sepuluh.
- Sentralisasi proses ekspor di Lilypond Command memangkas waktu dan biaya, mendorong partisipasi lebih luas dalam ekspor non-migas.

Pelabuhan Lagos Complex (LPC) Apapa menutup tahun 2025 dengan torehan positif: volume kargo yang ditangani mencapai 21.997.773 metrik ton, naik 4,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 21.069.745 metrik ton. Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan perbaikan operasional, tetapi juga menjadi sinyal pemulihan aktivitas perdagangan di salah satu gerbang logistik utama Nigeria.
Manajer Umum Pelabuhan Apapa, Debo Lawal, mengungkapkan bahwa lonjakan tersebut merupakan buah dari reformasi yang digalakkan oleh Otoritas Pelabuhan Nigeria (NPA) di bawah kepemimpinan Dr. Abubakar Dantsoho. Menurut Lawal, peningkatan efisiensi operasional, pembaruan infrastruktur, dan kolaborasi yang lebih erat antar pemangku kepentingan menjadi kunci utama. “Kami kini memberikan prioritas pada produk ekspor. Eksportir bisa mengakses pelabuhan kapan saja tanpa hambatan,” ujarnya.
Data yang dirilis menunjukkan bahwa arus peti kemas mengalami pertumbuhan paling spektakuler: melonjak 34 persen menjadi 800.943 TEUs (twenty-foot equivalent units) pada 2025, dari sebelumnya 598.177 TEUs. Sementara itu, volume ekspor kargo tercatat 19.528.636 metrik ton, tumbuh 3,8 persen dari 18.806.306 metrik ton pada 2024. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa kebijakan yang mendorong ekspor non-migas mulai membuahkan hasil.
Salah satu langkah strategis yang disebut Lawal adalah penambahan jumlah terminal ekspor dari lima menjadi sepuluh. Langkah ini dinilai memberikan dampak langsung terhadap kelancaran arus barang. Selain itu, sentralisasi proses dokumentasi ekspor di Lilypond Export Command—yang ditunjuk oleh Nigeria Customs Service—berhasil memangkas waktu tunggu dan biaya logistik. “Kebijakan ini mendorong lebih banyak warga Nigeria untuk terjun ke ekspor non-migas,” kata Lawal.
Lawal juga menekankan bahwa pelabuhan kini memberi prioritas pada evakuasi kargo ekspor yang mudah rusak (perishable) guna mencegah pembusukan. Kolaborasi yang lebih erat dengan instansi regulator, menurutnya, telah menekan angka penolakan kargo di pasar internasional. Ia mengimbau para importir dan eksportir untuk mematuhi standar internasional dalam dokumentasi dan pengemasan agar produk Indonesia—dalam konteks Nigeria—tidak ditolak atau dicegat di negara tujuan.
Ke depan, NPA berkomitmen untuk melanjutkan transformasi digital dan perbaikan infrastruktur akses pelabuhan. Lawal menegaskan bahwa otomatisasi dan kerja sama antarbadan pemerintah akan terus diperkuat untuk meningkatkan daya saing Nigeria dalam perdagangan maritim global. Pertanyaannya, apakah momentum pertumbuhan ini dapat dipertahankan di tengah tekanan rantai pasok global dan fluktuasi harga komoditas?



