Final T20 World Cup: Inggris Kembali Percaya Diri Usai Penantian Delapan Tahun
Baca dalam 60 detik
- Tim kriket putri Inggris akan menghadapi Australia di final T20 World Cup, laga terbesar mereka sejak 2017.
- Pelatih Charlotte Edwards menjadi kunci kebangkitan Inggris setelah kekalahan beruntun, termasuk Ashes 16-0.
- Pertandingan di Lord's ini menjadi ujian sejati bagi kepercayaan diri Inggris yang kembali pulih.

Keyakinan yang sempat memudar kini kembali bersemi di kubu kriket putri Inggris menjelang final T20 World Cup melawan Australia, Minggu (6/10). Laga di Lord's ini menjadi pertandingan terbesar mereka sejak menjuarai Piala Dunia 50-over pada 2017.
Perjalanan Inggris menuju final tidak mulus. Enam pekan lalu, mereka nyaris kalah dari India di Bristol sebelum Freya Kemp mencetak 39 run dari 13 bola untuk membalikkan keadaan. Sejak saat itu, delapan kemenangan beruntun diraih, termasuk kemenangan semifinal atas Afrika Selatan yang disebut sebagai performa terbaik dalam tiga tahun terakhir.
Di balik kebangkitan ini, nama Charlotte Edwards menonjol. Mantan kapten yang memulai karier internasionalnya dengan rok dan kaus kaki panjang itu kini menjadi pelatih kepala. Edwards dipecat setahun sebelum Inggris memenangi Piala Dunia 2017, namun kini ia menjadi arsitek kebangkitan tim. "Dia adalah pelatih yang dibutuhkan Inggris untuk 2026," demikian pandangan internal tim.
Namun, Australia tetap diunggulkan. Kemenangan Ashes 16-0 delapan belas bulan lalu masih segar dalam ingatan. Kapten Australia Sophie Molineux mengaku tidak banyak membahas Ashes, tetapi tetap mewaspadai kebangkitan Inggris. "Kondisi berbeda dan mereka bermain dengan gaya yang berbeda," ujarnya.
Kapten Inggris Nat Sciver-Brunt menegaskan bahwa timnya kini berbeda secara mental. "Perasaan di grup sangat berbeda dari perjalanan Ashes. Banyak yang ingin melupakan perasaan itu, tetapi kami tahu harus maju dan belajar," katanya. Ia optimistis dengan persiapan tim, meski sempat absen tiga pertandingan karena cedera betis.
Bagi Indonesia, perkembangan kriket putri Inggris ini menarik untuk dicermati. Meski kriket belum populer di Tanah Air, prestasi Inggris menunjukkan pentingnya konsistensi pembinaan dan kepercayaan terhadap pelatih lokal. Edwards yang sempat disingkirkan kini menjadi simbol kebangkitan, sebuah pelajaran bahwa perjalanan karier tidak selalu linier.
Final ini juga menjadi momentum bagi Edwards untuk mendapatkan pengakuan di rumah kriket Inggris, Lord's. Jika Inggris menang, ini akan menjadi trofi pertama sejak 2017 dan menandai era baru di bawah kepemimpinannya. Namun, apa pun hasilnya, Inggris telah membuktikan diri sebagai tim yang layak dipercaya lagi.
Pertanyaannya, mampukah Inggris memutus dominasi Australia di panggung terbesar? Atau sejarah akan kembali berulang?



