Rahasia Fisik Luka Modrić: Disiplin, Genetik, dan Kecerdasan Bermain di Usia 40 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Luka Modrić menjadi pemain tertua yang memberikan assist di Piala Dunia 2026 saat membantu Kroasia mengalahkan Ghana.
- Pelatih pribadinya mengungkap rutinitas latihan 45 menit yang dijalani 350 hari setahun untuk menjaga kebugaran dan mencegah cedera.
- Kombinasi genetik, disiplin, dan kecerdasan motorik membuat Modrić tetap tampil prima meski usianya sudah 40 tahun.

Luka Modrić, kapten timnas Kroasia, kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Di usianya yang ke-40, ia masih menjadi motor permainan saat Kroasia bersiap menghadapi Portugal di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Pertandingan yang akan berlangsung di Toronto Stadium ini mempertemukan dua raksasa Eropa yang sama-sama diperkuat pemain veteran luar biasa: Cristiano Ronaldo dan Modrić sendiri.
Modrić baru saja mencatatkan rekor sebagai pemain tertua yang memberikan assist dalam sejarah Piala Dunia. Pada laga penutup grup melawan Ghana, ia mengirimkan sepak pojok yang disundul Nikola Vlašić untuk memastikan kemenangan 2-1 dan tiket ke fase gugur. Ini adalah caps ke-202 bagi gelandang yang sudah malang melintang di level tertinggi selama lebih dari dua dekade.
Rahasia ketahanan fisik Modrić terletak pada persiapan yang sangat detail. Vlatko Vučetić, asisten profesor di Fakultas Kinesiologi Universitas Zagreb yang menjadi pelatih pribadinya sejak 2012, mengungkapkan tiga target utama: menjaga kebugaran, mencegah cedera, dan memperpanjang karier. Awalnya Modrić menargetkan pensiun di usia 36 tahun, namun kini di usia 40 ia masih menjadi andalan di klub dan tim nasional.
Vučetić menjelaskan bahwa Modrić menjalani latihan 45 menit sebelum sesi latihan reguler, dan rutinitas ini dilakukan 350 hari dalam setahun. Program tersebut meliputi latihan dengan resistance band, penguatan lengan dan bahu, serta latihan inti dan kaki. Menurut Vučetić, setelah usia 30 tahun, kehilangan massa otot membutuhkan beban kerja tambahan. Saat Modrić berusia 39, ia memiliki usia metabolik di bawah 30 tahun berkat komitmennya pada program kebugaran yang mencakup pencegahan cedera, istirahat, dan variasi beban latihan.
Namun, ketahanan Modrić tidak hanya soal fisik. Vučetić menekankan peran kecerdasan kognitif dan motorik—kemampuan mengambil keputusan cepat dan membaca permainan. Modrić jarang datang terlambat ke area bola; ia selalu memindai lingkungan, menyesuaikan posisi tubuh, dan merencanakan langkah sebelum menerima bola. Hal ini membuatnya tidak membuang energi secara percuma. Pemahaman permainan yang luar biasa mengurangi keterlibatan yang tidak perlu dan godaan untuk berlari tanpa tujuan.
Meski kecepatan larinya menurun, Modrić tetap mampu mengatur tempo, memberikan opsi umpan, dan membawa tim naik ke depan. Saat kelelahan, tekniknya tetap sempurna hingga peluit akhir. Ia telah mencatat lebih dari 1.150 penampilan kompetitif di level klub dan internasional, termasuk 597 pertandingan bersama Real Madrid dengan 28 trofi, enam di antaranya Liga Champions.
Data cedera menunjukkan Modrić sangat jarang mengalami cedera otot serius. Total hari absen karena cedera hanya 250 hari dari sekitar 7.000 hari karier profesionalnya—angka yang sangat kecil. Cedera paling signifikan adalah masalah paha pada 2014. Selebihnya, cedera ringan seperti patah tulang pipi pada April lalu yang tidak menghalanginya tampil di Piala Dunia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Modrić menjadi inspirasi bahwa dedikasi dan disiplin dapat memperpanjang karier di level tertinggi. Di tengah maraknya pemain muda yang bersinar, kehadiran veteran seperti Modrić menunjukkan bahwa pengalaman dan kecerdasan bermain tetap menjadi aset berharga. Pertandingan melawan Portugal akan menjadi ujian sejauh mana rahasia kebugaran Modrić mampu membawa Kroasia melaju lebih jauh.
Akankah Modrić kembali menunjukkan magisnya di usia 40? Ataukah Portugal dengan Ronaldo yang juga tak kalah awet muda akan menjadi batu sandungan? Satu hal pasti: duel dua legenda ini layak dinantikan.



