Dari Puncak Kejayaan hingga Keruntuhan: Pelajaran di Balik Runtuhnya Kerajaan Bisnis Salim
Baca dalam 60 detik
- Kerajaan bisnis Salim Group yang dibangun selama tiga dekade runtuh dalam hitungan hari saat krisis 1998, dipicu oleh kerusuhan dan pengambilalihan BCA.
- Kedekatan dengan rezim Orde Baru yang semula menjadi kunci sukses justru menjadi bumerang ketika sentimen anti-Soeharto meledak.
- Kisah ini menjadi pengingat bagi konglomerat Indonesia akan risiko politik dan pentingnya diversifikasi serta tata kelola yang independen.

Pada Mei 1998, kerajaan bisnis Salim Group yang dibangun Sudono Salim selama lebih dari tiga dekade runtuh dalam sekejap. Krisis ekonomi yang berujung pada kerusuhan massal dan lengsernya Soeharto menghancurkan aset-aset utama Grup Salim, termasuk Bank Central Asia (BCA) yang diambil alih pemerintah. Peristiwa ini menjadi salah satu episode paling dramatis dalam sejarah bisnis Indonesia dan menyisakan pelajaran berharga tentang risiko keterikatan bisnis dengan kekuasaan.
Sudono Salim, atau dikenal juga sebagai Liem Sioe Liong, memulai kariernya sebagai pengusaha impor cengkeh dan penyuplai logistik tentara. Kedekatannya dengan Soeharto, yang saat itu masih berpangkat kolonel, terjalin melalui perantara sepupu Soeharto. Hubungan ini semakin erat setelah Soeharto menjadi presiden pada pertengahan 1960-an. Salim Group pun menjelma menjadi konglomerat raksasa dengan tiga pilar utama: perbankan (BCA), semen (Indocement), dan makanan (Indofood).
Namun, simbiosis mutualisme antara Salim dan rezim Orde Baru berubah menjadi bumerang ketika krisis moneter 1997-1998 melanda. Sentimen anti-Soeharto yang meluas juga menyasar para pengusaha yang dianggap sebagai kroni, dan Salim menjadi target utama. Kerusuhan 13-14 Mei 1998 mengakibatkan pembakaran dan penjarahan rumah Salim di kawasan Roxy, serta 122 cabang BCA rusak, 17 di antaranya terbakar habis. Kerugian BCA mencapai Rp 3 miliar dari 150 ATM yang dirusak, sementara Indofood kehilangan Rp 42 miliar akibat pabriknya di Solo dibakar.
Anthony Salim, putra Sudono yang saat itu berada di Jakarta, menyaksikan langsung kehancuran itu. Dalam buku "Liem Sioe Liong dan Salim Group", ia menceritakan bagaimana massa membakar seluruh mobil di garasi, merusak furnitur, dan mencoret-coret rumah dengan kata-kata tidak pantas. Anthony terpaksa melarikan diri ke Singapura menggunakan pesawat jet pribadi untuk memantau sisa-sisa bisnisnya.
Pasca kerusuhan, BCA yang mengalami pendarahan hebat akhirnya diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) pada 28 Mei 1998. Keluarga Salim kehilangan kendali atas bank terbesar saat itu. Indofood menjadi satu-satunya andalan untuk membangkitkan kembali kekayaan keluarga.
Kisah Salim Group menjadi cermin bagi pengusaha Indonesia tentang bahaya ketergantungan pada kekuasaan politik. Di era reformasi, hubungan bisnis-politik yang transparan dan tata kelola perusahaan yang independen menjadi krusial. Meski demikian, keluarga Salim berhasil bangkit kembali dalam 25 tahun terakhir, dengan ekspansi ke sektor migas, konstruksi, dan bahkan kembali ke perbankan melalui kepemilikan saham di beberapa bank. Pertanyaannya, apakah para konglomerat masa kini sudah cukup belajar dari sejarah ini?



